BANTUL – Petambak udang di kawasan pesisir selatan Bantul masih menghadapi berbagai kendala. Terutama terkait lingkungan dan serangan penyakit.
Salah satunya dialami Yuda Witjarnoko. Petambak udang yang berada tidak jauh dari Pantai Tanggul Tirto tepatnya di Padukuhan Kuwaru, Kalurahan Poncosari, Kapanewon Srandakan.
Dia menyebut, benur atau bibit udang yang resisten terhadap penyakit juga masih terbatas. "Selain itu, harga udang juga fluktuatif,” ujarnya saat ditemui di lokasi tambak udang yang berada tidak jauh dari Pantai Tanggul Tirto Rabu (15/10).
Menurutnya, kondisi lingkungan sangat memengaruhi tingkat serangan penyakit. Saat ini, beberapa penyakit kerap menyerang udang di tambaknya yang memiliki luas mencapai 7 hektare dengan kapasitas 22 kolam, salah satunya adalah pengakit Acute Hepatopancreatic Necrosisi Disease (AHND).
“Kalau di udang itu tidak ada obatnya. Jadi penanganannya hanya pencegahan. Penggunaan antibiotik sangat dilarang, bahkan ilegal,” jelasnya.
Upaya pencegahan dilakukan dengan menjaga kualitas air, pengelolaan pakan, dan manajemen limbah dasar yang baik.
“Air tambak diganti secara berkala, tapi tidak langsung penuh, melainkan bertahap,” tambahnya.
Staf Operasional Tambak Udang yang berada di kawasan Pantai Tanggul Tirto Ferri Setiawan mengatakan, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Bantul secara rutin melakukan pemantauan kesehatan udang dan lingkungan tambak.
“Tiap tahun ada pengambilan sampel untuk dicek di laboratorium. Dari situ bisa diketahui apakah udang mengandung logam berat atau tidak,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengolahan, Pemasaran, dan Pengawasan Perikanan DKP Bantul Pramahdiansyah mengatakan, memang benar pihaknya memfasilitasi kesehatan lingkungan (Kesling) bagi petambak udang yang ada di Bantul. "Paling hanya kesling saja," jelasnya. (cin)
Editor : Sevtia Eka Novarita