BANTUL – Kelompok tani milenial dari Padukuhan Semutan, Kalurahan Jatimulyo, Dlingo, memanfaatkan tanah kas desa (TKD) seluas tiga hektare menjadi perkebunan kelapa kopyor. Dari hasil panen tersebut, mereka kemudian mengolahnya menjadi produk minuman Es Kelapa Kopyor Semutan yang kini mulai dipasarkan ke berbagai daerah, termasuk destinasi wisata di kawasan Mangunan.
Baca Juga: Diresmikan, Taman dan Gapura Kini Jadi Wajah Utama Kawasan Industri Bakpia Pathok Jogja
Pengelola Kampung Kopyor Taruna Tani Iwan Hariyanto mengatakan, ide ini lahir dari semangat anak muda di Padukuhan Semutan yang ingin mengembangkan pertanian dengan sistem yang berkelanjutan.
Awalnya, kelompok ini fokus pada hortikultura, tetapi kemudian beralih menanam kelapa kopyor karena dianggap lebih menjanjikan. Kelapa kopyor dinilai memiliki nilai ekonomi stabil dan bisa dipanen setiap bulan. Sehingga menjadi sumber pendapatan rutin bagi petani muda.
“Kalau petani itu kan harus punya pendapatan harian, mingguan, sampai bulanan. Nah, kelapa kopyor ini bisa panen tiap bulan, jadi bisa jadi penghasilan tetap,” ungkapnya saat ditemui ditempat produksi kelapa kopyor Padukuhan Semutan Selasa (7/10).
Pada tahap awal pengembangan kelapa kopyor 2024 lalu, kelompok tani ini mengembangkan 700 bibit kelapa kopyor di lahan tanah kas desa. Sebelumnya, 2023 mereka juga sudah memiliki sekitar 200 pohon induk kelapa kopyor lokal yang telah diidentifikasi. Bibit-bibit itu merupakan varietas asli Semutan yang telah ditanam secara turun-temurun lebih dari 50 tahun. Sebagian bibit juga dikembangkan melalui kerja sama dengan Balai Kultur Jaringan di Bogor.
Untuk jenis kultur jaringan, tanaman biasanya mulai berbuah pada usia 2,5 tahun. Sedangkan untuk varietas lokal, usia produktifnya mencapai tujuh tahun.
Saat ini kebun yang dikelola kelompok tani Taruna Tani baru berumur sembilan bulan, sehingga masih dalam tahap pengembangan.
Lurah Jatimulyo Mukidi mengatakan, pengembangan kelapa kopyor di wilayahnya sebenarnya sudah dirintis sejak 2003. Saat itu pemerintah kalurahan menganggarkan pembibitan lebih dari dua ribu bibit kelapa kopyor. Upaya itu kemudian dilanjutkan dengan pemanfaatan tanah kas desa sebagai kebun kelapa kopyor yang kini dikelola kelompok tani milenial.
“Tahun ini kami anggarkan sekitar 20 juta rupiah untuk pemupukan 600 pohon kelapa kopyor di lahan tiga hektare itu,” jelasnya.
Selain di tanah kas desa, kebun warga juga sudah memiliki sekitar 200 pohon yang mulai berbuah. Dari kebun tersebut, rata-rata sekitar 30 butir kelapa kopyor bisa dipanen setiap hari.
Hasil panen itu diolah menjadi Es Kopyor Semutan, produk unggulan warga yang kini dipasarkan ke berbagai tempat, termasuk kawasan wisata Mangunan. Jika dihitung, dengan 30 butir kopyor per hari, omzet yang dihasilkan mencapai sekitar Rp 900 ribu per hari.
Mukidi menambahkan, sejarah kelapa kopyor di Semutan berawal dari seorang warga bernama Mbah Paijo, yang pertama kali menemukan dan menanam kelapa kopyor di Padukuhan tersebut.
Baca Juga: Jatuh dari Tebing Pantai Parangtritis, Pencari Rumput Laut Ditemukan Meninggal Dunia
Dari hasil penemuan itu, kini Padukuhan Semutan dikenal sebagai kampung kopyor. Pemerintah kalurahan pun menganggarkan penanaman melalui APBKal agar bisa menjadi potensi unggulan desa.
Kegiatan pengelolaan lahan dan produksi es kelapa kopyor dilakukan oleh kelompok Taruna Tani yang beranggotakan sekitar 25 pemuda. Mereka bertanggung jawab atas pembibitan, pemeliharaan, hingga pengolahan dan pemasaran produk.
Budidaya kelapa kopyor sendiri termasuk mudah dan efisien. Dalam tahap perawatan, satu pohon hanya membutuhkan satu liter air per hari, dengan pemupukan dilakukan setiap enam bulan sekali.
Baca Juga: Malioboro Full Pedestrian, Suasana Lebih Asri dan Sejuk namun Belum Untungkan Pelaku Usaha
Selain menjadi sumber penghasilan, kebun kelapa kopyor ini juga menjadi lokasi studi banding. Setiap minggu, kelompok tani wanita, akademisi, hingga taruna tani dari berbagai daerah datang untuk belajar tentang budidaya kelapa kopyor.
Mukidi berharap, pengembangan kelapa kopyor ini tidak hanya meningkatkan ekonomi warga, tetapi juga membuka potensi wisata edukasi pertanian.
“Kalau nanti sudah jadi kawasan wisata, warga sekitar bisa ikut berjualan di sini, sehingga manfaatnya dirasakan bersama,” katanya. (cin)
Editor : Sevtia Eka Novarita