BANTUL - Berawal dari keprihatinan anak-anak zaman sekarang yang tidak mengenal mainan tradisional, Suwinda aktif menggerakan anak-anak agar tertarik dengan mainan tradisional salah satunya egrang.
Baca Juga: 817 Mahasiswa Untidar Diwisuda, Rektor: Wisuda Bukan Akhir, Melainkan Awal
Baginya, permainan tradisional menyimpan nilai filosofis dan pendidikan yang penting bagi generasi muda.
“Sekarang anak-anak lebih akrab dengan gawai. Padahal dari permainan tradisional, banyak sekali nilai positif yang bisa dipelajari," jelas ketua Komunitas Raja Egrang ini saat dihubungi lewat telepon Minggu (28/9).
Hal tersebut, kata dia, menjadi dasar permainan tradisional begitu penting, tidak hanya bagi anak, tetapi juga bagi sebuah bangsa.
Kecintaan keluarga Suwinda terhadap egrang bukan hal baru. Pada 2015, ayahnya bernama Yudi Karyono bahkan pernah menjadi pelopor perjalanan egrang dari Jogja ke Jakarta untuk bertemu Presiden Joko Widodo. Perjalanan itu memakan waktu 51 hari, dan di sepanjang jalan banyak masyarakat yang peduli serta memberi dukungan.
“Dulu saya tidak bisa ikut mengawal karena bekerja. Tapi melihat bapak konsisten naik egrang sampai ke Jakarta, saya merasa harus melanjutkan perjuangan itu,” kenangnya.
Dari situlah Suwinda mulai serius melestarikan permainan tradisional. Meski sudah mengumpulkan perlengkapan sejak lama, gerakan itu baru dirintis pada 2018.
Berbekal latar belakang seni dan budaya, ia membentuk komunitas Raja Egrang yang kini beranggotakan pelajar SD, SMP, SMA, mahasiswa, hingga budayawan.
Suwinda sadar tantangan utama datang dari derasnya pengaruh gawai. Untuk mengimbanginya, komunitas aktif bekerja sama dengan berbagai instansi, memanfaatkan event sebagai ruang mengenalkan permainan tradisional.
Selain itu, mereka rutin mengadakan workshop ke sekolah-sekolah maupun pondok pesantren. Bahkan membuka edukasi di Alun-Alun Kidul, Gunungkidul, dan Pasar Seni Gabusan. “Kami juga produksi dan menjual mainan tradisional. Kalau alatnya tidak ada, otomatis tidak ada yang bisa dimainkan. Jadi menjaga ketersediaan alat itu penting,” tegasnya.
Harga egrang yang diproduksi bervariasi. Mulai Rp 150 ribu untuk ukuran standar hingga Rp 200 ribu untuk egrang model sepatu karet. Produknya bisa dibeli langsung maupun secara daring.
Selain egrang, ia juga menghadirkan dan menjual berbagai mainan seperti bakiak, gasing, ketapel, hingga lompat tali.
Dari permainan itu, kata Suwinda, tersimpan nilai toleransi dan kebersamaan. Misalnya lompat tali, di mana anak bertubuh pendek pun bisa bermain.
Untuk menarik minat generasi muda, komunitasnya juga membuat variasi permainan. “Kami kembangkan freestyle egrang, jadi dimainkan dengan cara berbeda dari pakemnya. Ternyata menarik perhatian anak-anak,” jelasnya.
Baca Juga: Aktivis Social Movement Institute Ditangkap Paksa di Jogja, Proses Hukum Dilimpahkan ke Polda Jatim
Kini komunitas Raja Egrang beranggotakan sekitar 30 orang aktif. Harapannya sederhana semakin banyak anak yang kembali tertarik pada permainan tradisional.
“Dengan bermain tradisional, anak-anak belajar mengendalikan diri, mengenal lingkungan, tidak egois, dan tumbuh rasa toleransi,” tutupnya. (cin)
Editor : Sevtia Eka Novarita