Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jogja International Heritage Festival (JIHF) 2025 Tampilkan Jenis-Jenis Wayang Jogjakarta yang Sudah Jarang Digelar

Cintia Yuliani • Jumat, 26 September 2025 | 01:12 WIB

 

Tiga dalang memainkan wayang secara bersama-sama dalam gelaran Jogja International Heritage Festival (JIHF) 2025, di kompleks Kampus ISI Jogja, kemarin (25/9).
Tiga dalang memainkan wayang secara bersama-sama dalam gelaran Jogja International Heritage Festival (JIHF) 2025, di kompleks Kampus ISI Jogja, kemarin (25/9).

BANTUL - Jogja International Heritage Festival (JIHF) 2025 tampil berbeda. Tahun ini wayang dipilih sebagai sorotan utama untuk mengenalkan warisan budaya tak benda itu kepada generasi muda sekaligus masyarakat umum. Beragam pertunjukan pun digelar, mulai 100 Dalang hingga Wayang Daring Internasional.


Art Director JIHF 2025 Fani Rickyansyah mengatakan, tahun ini spesial karena festival ini menampilkan ragam jenis wayang di Jogjakarta yang jarang dipentaskan. Misalnya lakon klasik pernikahan Raden Arjuna dengan para istrinya turut dihadirkan.


"Kita memilih itu karena ada wujud filosofis dari kesuburan, agar Jogja senantiasa diberkahi kesuburan dengan masyarakatnya yang selalu prihatin," ujarnya saat ditemui di Pendopo Pajangmas, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Jogjakarta, Kamis (25/9).


Pertunjukan wayang 100 Dalang digarap Rukun Dalang Jogja bersama Persatuan Pedalangan Indonesia, sejumlah dalang DIJ, dan di bawah naungan Dinas Kebudayaan DIJ. Seratus dalang Jogja ini menampilkan seluruh jenis-jenis wayang yang ada di Jogjakarta.

jihfBaca Juga: Wayang Uwuh Ramaikan Festival Bedhidhig 2025: Kreativitas Wayangan Gen Z bawa Isu Lingkungan


Jenis wayang yang ditampilkan yakni wayang Babad, Madya, Calung Banyumas, Kulit Bali, Gedhog Pakualaman, Kancil, Wahyu, dan jenis wayang lainnya.


JIHF 2025 juga menghadirkan Wayang Daring Internasional hasil kolaborasi Dinas Kebudayaan DIJ dengan ISI Jogjakarta. Bentuknya berupa pemutaran video pendalangan dari sejumlah negara seperti Jepang, Tiongkok, Meksiko, Amerika, dan Singapura.


“Video karya mereka ditayangkan di sela-sela waktu istirahat pertunjukan 100 Dalang. Screening-nya di Pendopo Panjangmas Jurusan Pedalangan,” terang Fani.


Menurutnya, cara ini dipilih karena efisiensi, sehingga dalang luar negeri tidak bisa hadir langsung. “Mereka membuat karya di negaranya, lalu mengirimkan video kepada ISI untuk ditampilkan di sini,” jelasnya.


Fani menambahkan, mahasiswa ISI Jogjakarta juga ikut terlibat dalam pementasan. Ia berharap kehadiran JIHF bisa menjadi jalan bagi generasi muda untuk lebih dekat dengan warisan budaya.
"Tidak perlu tahu terlalu dalam, tapi cukup mengerti bahwa wayang adalah warisan yang perlu dijaga,” tandasnya. (cin/laz)

Editor : Herpri Kartun
#warisan budaya tak benda (WBTB) #dalang #ISI Jogjakarta #Jogja International Heritage Festival #wayang #JIHF