BANTUL - Malam itu Sabtu (20/9), Auditorium WS Rendra di Jurusan Teater ISI Jogjakarta diwarnai gemuruh yang berbeda. Bukan riuh percakapan, melainkan datang dari panggung, dari kata-kata yang dilempar dengan lantang.
Sebagai bagian dari Festival Teater Perempuan Jogjakarta 2025, pementasan Sindikat Tuak Perempuan karya Rumah Sastra Evi Idawati berhasil menyihir penonton malam itu. Sejak tirai dibuka, panggung sudah terasa hidup. Dentuman musik rock dari lagu "Perempuan Gragas" ciptaan Evi Idawati dengan aransemen Hari Macan dan Antero Ideaworks, menjadi pembuka yang meledak.
Puluhan pemain yang didominasi anak-anak muda, berlari, menari, dan berteriak, memenuhi panggung dengan energi yang memikat. Namun yang paling dominan bukanlah gerak atau musik, melainkan kata-kata mereka.
Naskah Sindikat Tuak Perempuan diadaptasi dari puisi Evi Idawati berjudul "Menjadi Seorang Perempuan". Puisi itu dimuat dalam buku Perempuan yang Matanya Ditumbuhi Dendam dan Kasih Sayang terbitan tahun 2018.
Dalam pementasan ini, kata-kata tak hanya diucapkan, tetapi juga diletupkan. Teriakan-teriakan para aktor terasa seperti gempuran, mengajak penonton untuk merasakan perih, amarah, dan keberanian yang diusung oleh cerita ini.
Selama pertunjukan, penonton diajak dalam sebuah perjalanan emosional. Adegan demi adegan datang silih berganti, membawa mereka merenung tentang nilai kehidupan, keadilan sosial, kekerasan, dan kemanusiaan.
Pementasan ini tidak hanya menyajikan cerita, tetapi juga menuntut penonton untuk berpikir. Bahkan menantang mereka untuk berani melakukan perubahan.
"Seorang sastrawan harus memiliki keberanian untuk menciptakan perubahan melalui kata-kata. Berubah atau tidak setelahnya, kami tetap akan terus menyuarakannya," ungkap Evi Idawati, penulis naskah sekaligus sutradara pementasan ini.
Bukan tanpa alasan Evi mengatakan hal itu. Karena menurutnya, perlawanan harus terus disuarakan. Terutama jika menyangkut keadilan sosial dan kemanusiaan. Baginya, perempuan adalah rahim kebaikan yang harus menjaga agar dunia tidak kehilangan pijakan pada nilai-nilai kemanusiaan.
"Sindikat Tuak Perempuan menjadi lebih dari sekadar tontonan. Ia adalah seruan, pukulan lembut yang tajam, yang mengingatkan bahwa perempuan adalah makhluk yang mulia dan pantang menyerah," tandas Evi. (mg2/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita