BANTUL – Suasana Lapangan Mulyodadi, Bambanglipuro, begitu meriah. Ratusan siswa sekolah dasar tampak antusias mengikuti Festival Permainan Tradisional yang digelar Komunitas Belajar (Kombel) Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) Kapanewon Bambanglipuro bekerja sama dengan Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (Kormi) Bantul.
Ketua panitia sekaligus Ketua Kombel PJOK Bambanglipuro Badri Saronto mengungkapkan, tujuan diadakannya festival ini, karena keprihatinannya banyak anak-anak saat ini tidak lagi mengenal permainan tradisional.
"Terbukti tadi ketika kita bagikan doorprize ditanyain nama permainan, itu ngga tahu," jelasnya saat ditemui di Lapangan Mulyodadi Rabu (17/9).
Padahal menurutnya permainan tradisional termasuk warisan budaya yang harus lestarikan.
Kegiatan ini lanjutnya, sekaligus menjadi jawaban atas kegelisahan para guru olahraga. Selama ini, banyak siswa yang tak tahan panas saat upacara hingga sering pingsan. Selain itu, persoalan obesitas juga mulai muncul.
Baca Juga: Kompleks Kepatihan Panas, Gubernur DIY HB X Galakkan Rukti Bumi
Melalui permainan tradisional, Anak-anak, kata dia, diharapkan kembali aktif bergerak sekaligus terlepas dari pengaruh gawai.
“Nilai-nilai karakter seperti sabar, tekun, dan mampu mengambil keputusan yang tepat bisa ditanamkan lewat permainan tradisional,” jelas Badri.
Festival ini diikuti sekitar 400 anak dari 17 SD dan MI se-Kapanewon Bambanglipuro. Mereka bersaing dalam empat nomor lomba, yakni egrang, bakiak, bola kasti, dan gobak sodor.
Kepala SDN 3 Panggang Theresia Ari Purwaningsih menambahkan, festival ini juga menjadi bagian dari peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas). Menurutnya, baru kali ini kegiatan digelar secara bersama, setelah sebelumnya hanya diadakan di sekolah masing-masing. Jumlah peserta pun disesuaikan dengan kapasitas sekolah, antara 50 hingga 100 anak.
Baca Juga: Demi Nama Baik PSS Sleman, Imbau Suporter Tak Away ke Kandang Persiku Kudus
Festival, katanya, berlangsung dua hari. Hari pertama Selasa (16/9) diisi lomba gobak sodor dan bakiak, sementara puncaknya digelar pada hari kedua Rabu (17/9) dengan lomba egrang, dan bola kasti, serta final penentuan pemenang.
Ia berharap, anak-anak jaman sekarang semakin semangat melestarikan olahraga tradisional yang merupakan warisan nenek moyang.
Baca Juga: Demi Nama Baik PSS Sleman, Imbau Suporter Tak Away ke Kandang Persiku Kudus
"Jangan sampai anak-anak tergerus oleh arus budaya yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia, di mana memang sangat baik untuk kita mendukung dalam hal pelestarian olahraga tradisional," tutupnya. (cin)
Editor : Sevtia Eka Novarita