Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Prihatin, Sastrawan Evi Idawati Hadirkan Lakon Sindikat Tuak Perempuan di Festival Teater Perempuan Yogyakarta 2025

Cintia Yuliani • Sabtu, 13 September 2025 | 04:00 WIB
SESI LATIHAN: Lakon Sindikat Tuak Perempuan yang akan ditampilkan pada Festival Teater Perempuan Yogyakarta 2025
SESI LATIHAN: Lakon Sindikat Tuak Perempuan yang akan ditampilkan pada Festival Teater Perempuan Yogyakarta 2025

BANTUL - Sastrawan Evi Idawati mengaku prihatin dengan kondisi perempuan di tengah masyarakat saat ini. Meski telah diwarisi perjuangan tokoh-tokoh hebat seperti RA Kartini, Cut Nyak Dien, Ratu Shima, hingga Ratu Kalinyamat, menurutnya sebagian perempuan justru terjebak pada euforia kebebasan yang kebablasan.

“Musuh utama seorang perempuan bukanlah lawan jenisnya, melainkan sesama mereka sendiri," jelasnya Jumat (12/9).

Evi menegaskan, perempuan sejatinya adalah rahim dari kebaikan. Karena itu, menurutnya, jangan ada yang berani menyebut dirinya perempuan bila belum pernah mengakrabi keberanian sekaligus kegilaan dalam hidupnya.

Kegelisahan itu dia wujudkan dalam lakon berjudul Sindikat Tuak Perempuan yang akan dipentaskan dalam Festival Teater Perempuan Yogyakarta 2025 di Auditorium WS Rendra, ISI Jogja, pada 20 September. Pertunjukan berdurasi 45 menit ini terbuka untuk umum dan gratis digelar mulai pukul 19.00.

Lakon tersebut sepenuhnya dimainkan oleh Rumah Sastra Evi Idawati berkolaborasi dengan sejumlah anak muda Jogjakarta. Pertunjukan ini mengangkat konflik sosial yang berangkat dari kegagapan perempuan menghadapi derasnya arus peradaban.

Dalam lakon, digambarkan seorang perempuan yang menjual kesalehan dan dogma agama demi kepentingan pribadi. Dia mendominasi, menindas, hingga memanfaatkan sesama kaumnya, bahkan memanipulasi laki-laki.

Kesalehan yang ditampilkan hanya sebatas pencitraan melalui simbol. “Seperti kerudung, untuk menutupi keserakahan dan kejahatan,” bebernya.

Menurut Evi, realitas semacam ini menciptakan reduksi nilai yang berbahaya. Karena itu, lewat pentas ini dia berharap penonton dapat mengambil pelajaran kesalehan perempuan bukanlah imaji yang dibangun untuk memanipulasi. “Melainkan laku nyata yang dijalani dengan ketakwaan kepada Tuhan,” sebutnya. (cin/eno) 

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#perempuan #Dogma #laki-laki #agama #ISI Jogja #Sastrawan Evi Idawati #perjuangan #Sindikat Tuak Perempuan #pencitraan #Festival Teater Perempuan Yogyakarta 2025