BANTUL – Menu makanan bergizi (MBG) di SMPN 2 Sewon kembali jadi sorotan. Dalam sepekan terakhir, ditemukan tiga kasus berbeda di kelas yang sama. Mulai dari ulat di sayur, telur lalat, hingga jangkrik di dalam tahu.
Asisten lapangan satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) Miri, Pendowoharjo, Sewon Hafiz Sabiq Syahuri menjelaskan, rangkaian kejadian itu terjadi berurutan. Pertama pada Rabu (27/8) ditemukan ulat dalam menu sayur sawi putih. Esok harinya, Kamis (28/8) laporan adanya telur lalat di menu dori teriyaki. Terakhir, Selasa (2/9), ditemukan jangkrik di dalam tahu
“Awalnya saya dapat laporan dari kepala sekolah (tanggal) 2 September pukul 14.00. Saya langsung cek ke sekolah, ternyata benar adanya,” jelasnya saat ditemui di SPPG Miri, Rabu (3/9).
Setelah mengonfirmasi, Hafiz bersama kepala sekolah langsung menuju Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bantul untuk melaporkan kronologi. Ia menegaskan, penyedia sebenarnya sudah menjalankan standar operasional prosedur (SOP) ketat. “Semua bahan baku sudah dicek, dicuci, SOP diterapkan," tuturnya.
Selain itu, semua karyawan juga telah memiliki bersertifikat penjamuan makanan. Namun, kata dia, ternyata masih ada fenomena yang tidak diinginkan.
Baca Juga: Kisah Warga Karangwuni yang Telanjur Berhutang karena Dijanjikan Ganti Untung JJLS
Sebagai tindak lanjut, pihak penyedia makanan akan lebih teliti mengecek bahan baku serta menemui langsung penerima manfaat. Hafiz menambahkan, seluruh MBG yang ditemukan bermasalah langsung ditarik dan diganti paket baru. “Tidak ada yang dikonsumsi anak-anak,” katanya.
Hafiz mengatakan SPPG Miri mengirimkan MBG ke 19 sekolah. Terdiri dari tujuh PAUD dan TK, 3 SD, dan sembilan SMP. "Kalau sekarang tiap hari 3.844 porsi, dengan kapasitas satu mobil sebanyak 1.055 porsi," tuturnya.
SPPG Miri pun baru beroperasi selama empat bulan. Tepatnya 19 Mei 2025. Dengan mempekerjakan 47 pegawai.
Baca Juga: Tiga Karangan Bunga, Tiga Pesan Haru Denise Chariesta untuk Uya Kuya
Sementara itu, Kepala sekolah SMPN 2 Sewon Susi Daryanti menegaskan, kasus hanya terjadi pada satu paket dari total 760 yang diterima. “Ulat itu ada di sawi putih, wajar karena sayur. Jangkrik ditemukan di dalam tahu. Tapi semua langsung dikembalikan dan diganti dengan paket baru,” terangnya.
Susi juga memastikan pihak sekolah sudah menyampaikan kejadian itu kepada penyedia dan Dikpora. “Alhamdulillah sudah ada tindak lanjut. Pihak penyedia juga meminta maaf dan berjanji memperbaiki layanan,” tambahnya.
Kepala Dikpora Bantul Nugroho Eko Setyanto menegaskan pihaknya sudah memanggil penyedia MBG. “Tiga kali temuan itu menunjukkan ada yang tidak beres. SOP perlu diperbaiki. Harapannya kejadian ini yang terakhir,” tegasnya.
Sejak program MBG berjalan di Bantul, Nugroho menyebut hanya SMPN 2 Sewon yang mengalami kasus semacam ini. “Selama ini di Bantul baru terjadi di satu sekolah,” tandasnya. (cin/pra)
Editor : Heru Pratomo