Tanpa koordinasi sebelumnya dengan pengelola, sekitar kurang lebih 3 ribu bobotoh memadati kawasan wisata ini.
Wakil Ketua Pengelola Pantai Cangkring Mulyandanu menceritakan, awalnya sekitar enam bus rombongan bobotoh masuk ke kawasan pantai.
Namun, jumlah itu terus bertambah hingga sore hari, sehingga pengunjung yang hadir mencapai ribuan orang.
Bahkan para pengelola Pantai Cangkring tidak mengetahui siapa yang menentukan tempat nobar di Pantai Cangkring.
"Tiba-tiba banyak bus masuk, makin siang makin bertambah, sampai sore jadi ribuan pengunjung,” ungkapnya saat dihubungi Senin (25/8).
Meski berlangsung kondusif tanpa keributan, dan ada pengaman dari polisi, TNI, serta petugas terkait, kehadiran bobotoh menyisakan masalah serius.
Pengelola mencatat tim kebersihan harus bekerja keras membersihkan sampah yang berserakan hingga kurang lebih 780 kilogram ditinggalkan suporter.
“Pembersihan mulai jam sembilan malam sampai pukul setengah empat dini hari, istirahat sebentar, lalu dilanjutkan lagi sampai jam sembilan pagi," tuturnya.
Persoalan lain adalah soal biaya. Menurut pengelola, pihaknya sempat meminta kompensasi Rp 2 juta untuk operasional dan kebersihan, mengingat suporter yang hadir mencapai 3 ribu orang. Maka dari itu petugas yang dikerahkan pun tidak sedikit.
"Paling tidak bisa buat ngopeni tenaga yang bekerja, buat konsumsi, buat kebersihan, buat kas kelompok," harapnya.
Namun, setelah perundingan panjang dengan koordinator suporter, jumlah yang disepakati hanya Rp 500 ribu. “Awalnya mereka menawar Rp 200 ribu. Akhirnya hasil diskusi hanya Rp 500 ribu," tuturnya.
Nominal tersebut pun, kata dia, tidak cukup untuk konsumsi pengelola wisata yang terjun ke lapangan. "Yang berjaga dari pagi sampai malam, jumlahnya sekitar kurang lebih 70 orang, masih kurang kalau Rp 500 ribu ,” kata Mulyandanu.
Kendati demikian, Mulyandanu juga memaklumi karena suporter Persib juga dikenakan tiket masuk retribusi (TPR) Rp 15 ribu per kepala.
"Kami sebenarnya kasihan juga, selain bayar TPR, biaya perjalanan dari Bandung ke Bantul saja per orang sekitar Rp 400 ribu," tuturnya.
Namun, ke depan pihaknya berharap ada koordinasi di jauh hari sebelum dilaksanakannya kegiatan sejenis. "Tapi kalau jumlahnya ribuan, mungkin lebih tepat diarahkan ke Parangtritis karena lebih luas,” imbuhnya.
Sementara itu Subkoordinator Kelompok Substansi Promosi Kepariwisataan Dinas Pariwisata Bantul Markus Purnomo Adi menilai persoalan utama dari kejadian ini adalah kesadaran pengunjung untuk menjaga kebersihan.
“Yang menjadi masalah menurut saya adalah jika pengunjung membuang sampah sembarangan. Tapi bila dikumpulkan di satu tempat akan membantu pengelola,” jelas Markus.
Ia juga mengimbau agar wisatawan menaruh sampah di tempat yang sudah disediakan. “Jangan meninggalkan sampah sembarangan,” tegasnya.
Markus menambahkan, terkait kompensasi nominal yang diberikan suporter kepada pengelola, hal itu sepenuhnya menjadi ranah kebijakan pengelola Pantai Cangkring. “Apalagi kemarin pengelola juga tidak mengira jika Cangkring akan dijadikan tempat nobar suporter Persib,” ucapnya. (cin)
Editor : Bahana.