Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Harianti: Ibu Rumah Tangga Kreatif Yang Mengubah Limbah Batok Kelapa Menjadi Tas Bernilai Jual Tinggi

Cintia Yuliani • Jumat, 22 Agustus 2025 | 01:10 WIB

KREATIF: Harianti sedang memegang produk tas yang dibuat dari Limbah batok kelapa Kamis (21/8)
KREATIF: Harianti sedang memegang produk tas yang dibuat dari Limbah batok kelapa Kamis (21/8)
BANTUL  – Dari tangan kreatif seorang ibu rumah tangga bernama Harianti, 54, limbah tempurung kelapa berhasil disulap menjadi produk kerajinan tangan yang bernilai jual tinggi.

Usaha ini dijalankan di toko Yanti Batok Craft Jogja yang beralamat di Dusun Juron RT 19, Pendowoharjo, Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kisahnya bermula pada tahun 2002. Saat itu, Harianti kerap melihat batok kelapa berserakan di warung maupun pasar.

Ia juga sering melihat pakaian dengan kancing berbahan batok kelapa. Dari situlah muncul angan-angan untuk mencoba membuat kerajinan sendiri.

“Kita berusaha untuk usaha yang biarpun lama tidak basi, saya berangan-angan, bisa nggak ya bikin. Kalau kita usaha, ternyata bisa,” ujar Harianti saat ditemui di rumahnya, Kamis (21/8).

Awalnya, ia memproduksi kancing baju dari batok kelapa dengan mesin sederhana buatan sendiri.

Namun, karena dorongan pelanggan yang meminta produk lain, ia kemudian berinovasi membuat tas dan suvenir berbahan batok kelapa.

Produk tas yang dihasilkan ada dua jenis, yaitu dari batok kelapa tua dan batok kelapa muda.

Batok tua menghasilkan warna cokelat alami, sedangkan batok muda menghasilkan warna putih setelah direbus menggunakan H2O2 agar lebih awet dan cerah.

Proses pengerjaan tas membutuhkan ketelitian. Batok diolah menjadi motif, disusun sesuai corak, ditempel menggunakan lem, lalu dijahit secara manual.

Satu tas umumnya memerlukan waktu pengerjaan tiga hari sebelum akhirnya diberi furing dan siap dipasarkan.

Model tas terus berkembang berkat inovasi dari berbagai pameran yang diikuti. “Kita sering melihat tas-tas di stand lain, lalu kita kombinasikan atau kustom sesuai permintaan pembeli,” jelasnya.

Bahan baku tempurung kelapa diperoleh dari Bantul, Yogyakarta, Purworejo, hingga Kutoarjo.

Kini, ia memiliki 10 karyawan yang berasal dari warga sekitar rumahnya hingga Sanden. Produksinya pun mampu mencapai 1.000 tas per bulan dibandrol dengan harga Rp 3 ribu sampai Rp 400 ribuan.

Pemasaran tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga telah menjangkau berbagai daerah dan negara.

Di dalam negeri, produknya sudah hadir di Jakarta serta Bandara Yogyakarta International Airport (YIA).

Sementara di luar negeri, produknya pernah diekspor hingga Jamaika, Prancis, Turki, bahkan Belanda ketika mengikuti pameran internasional.

Perjalanan panjang usaha ini tidak terlepas dari dukungan pemerintah. Melalui berbagai event seperti Bantul Ekspo, Jogja Ekspo, Jakarta Ekspo, hingga pameran di Batam, Kalimantan, dan Ambon, produk kerajinan batok kelapa karya Harianti semakin dikenal luas.

Meski awalnya sempat mencoba usaha berjualan keripik pisang yang gagal karena kendala cemilan tersebut bisa basi, Harianti tidak menyerah.

Ia terus mengembangkan keterampilannya secara otodidak hingga kini berhasil mengangkat limbah batok kelapa menjadi produk kerajinan yang bernilai tinggi dan diminati pasar lokal maupun internasional. (cin)

Editor : Bahana.
#tas #Bantul #batok kelapa