BANTUL – Pemicu munculnya orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Bantul beragam. Mulai dari faktor keturunan hingga pengalaman traumatis.
Kepala Seksi Rehabilitasi Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial Dinas Sosial (Dinsos) Bantul Nitakrit Rumantiningsih mengungkapkan, gejala gangguan jiwa biasanya mulai terlihat saat usia remaja.
“Jarang ditemukan di usia SMP. Tapi setelah SMA biasanya bisa terlihat ciri-cirinya,” jelasnya.
Pemicu itu antara lain beban berat dalam kehidupan, perceraian orang tua, kegagalan sekolah, hingga kisah asmara. “Misalnya diputus pacar, gagal naik kelas, atau terlalu stres menghadapi masalah. Itu bisa membuat seseorang trauma berat hingga mengalami gangguan jiwa," katanya saat ditemui di kantor Dinsos Bantul Rabu (20/8).
Baca Juga: Nilai Ekspor Sleman Turun, Eksportir Coba Rambah Pasar Dalam Negeri
Selain faktor lingkungan, gangguan jiwa juga bisa dipicu genetik. Ada anak dengan disabilitas mental sejak kecil yang semakin parah saat dewasa. “Kalau ada faktor turunan lalu muncul kejadian traumatis, itu bisa memicu kambuh,” sebutnya.
Baca Juga: Pemain Asing Ke-10 PSIM Jogja Sudah Bergabung Latihan, Administrasi Segera Dikebut Pihak Manajemen
Sepanjang tiga tahun terakhir, ODGJ yang masuk shelter Dinsos Bantul terus menurun. Tahun 2023 tercatat 42 orang, tahun 2024 sebanyak 29 orang, dan hingga 2025 baru 23 orang. Mereka terdiri dari ODGJ yang telantar maupun yang ditolak keluarga.
Penanganan ODGJ di Dinsos Bantul mencakup evakuasi, perawatan di rumah sakit jiwa, hingga rehabilitasi sosial. (cin)
Editor : Sevtia Eka Novarita