BANTUL - Berawal dari rasa malu karena tidak ikut melestarikan budaya Indonesia, Ki Indra Soroinggeno memutuskan pulang ke tanah air. Dia meninggalkan pekerjaan bergaji besar di Eropa demi mengembangkan budaya Indonesia lewat Museum Wayang Beber Sekartaji. Museum wayang beber satu-satunya di Indonesia, bahkan dunia.
Keputusannya tidak mudah. Selain harus rela menerima penghasilan jauh lebih kecil, dia juga kerap mendapat cemoohan. Banyak yang menilai langkahnya sia-sia. Karena dunia kesenian dianggap tak menjanjikan. Apalagi dibandingkan kenyamanan hidup di luar negeri.
Bekerja di restoran kapal pesiar, Indra biasa hidup berpindah dari Singapura, Eropa, hingga Amerika. Namu, satu di antara 46 rekannya dari berbagai negara membuatnya berpikir ulang. “Kamu bodoh, saya nabung seumur hidup untuk bisa bawa keluarga saya ke Indonesia. Alam kamu itu yang kami impikan,” ucap Indra mengulang kalimat temannya dari Swiss Senin (4/8).
Dia lalu memilih pulang ke Indonesia pada 2013. Bekerja di Museum Sonobudoyo sebagai koordinator pemandu wisata, sambil melanjutkan kuliah manajemen dan mendapatkan beasiswa kuliah di ISI Jogjakarta jurusan kriya. Dari sana ia pindah ke Dinas Kebudayaan DIY lalu ke Museum Purbakala, Pleret. “Pendapatan turun, dari Rp 20 juta per bulan menjadi Rp 750 ribu sebagai pekerja magang,” ingatnya.
Di tahun yang sama, Indra mendirikan Sanggar Seni Budaya Wono Alit. Dia mengajak anak-anak kampung yang biasa bermain PlayStation untuk ikut belajar budaya.
Strateginya unik, dia menyediakan sewa PlayStation dan Xbox dengan harga murah. Hanya Rp 500 per jam. Setelah bermain, mereka diajak mengenal gamelan dan kesenian tradisional.
Sanggar ini berkembang pesat. Pada 2015, sanggar tersebut mendapat nomor induk kebudayaan (NIK) dari Dinas Kebudayaan Bantul. Pentas demi pentas dilakukan, hingga wartawan mancanegara datang meliput.
Puncaknya pada 1 Oktober 2017. Indra mendirikan Museum Wayang Beber Sekartaji. Alasan dia memilih wayang ini adalah simbol pesan kehidupan. Berbeda dengan gamelan yang menonjolkan harmoni bunyi atau keris yang penuh simbol.
Wayang Beber, lanjutnya, mengisahkan dunia lewat gambar yang dibeberkan. Menjadi media yang diyakini dapat menyampaikan nilai-nilai luhur nusantara.
Namun baginya, mendirikan museum tidaklah mudah. Setelah NIK Bantul, tantangan berikutnya adalah menjadikannya museum resmi di tingkat nasional. "Sejak 2019, berkali-kali mengajukan pengakuan, namun terus gagal," tuturnya.
Baru pada 2024, museum ini diakui secara nasional. (cr2/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita