BANTUL - Keresahan terhadap kondisi lahan pertanian yang makin tidak subur mendorong Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY terus menggencarkan kegiatan bimbingan teknis (bimtek) pembuatan dan pemanfaatan pupuk organik. Setelah mengikuti bimtek diharapkan para petani di DIY beralih dari pupuk kimia menuju pertanian ramah lingkungan.
“Bimtek ini memiliki tujuan mendorong kesadaran para petani akan ancaman jangka panjang penggunaan pupuk kimia yang berlebihan,” ujar Ketua Komisi B DPRD DIY Andriana Wulandari saat berbicara di depan peserta bimtek di Pendapa Padukuhan Jaranan, Panggungharjo, Sewon, Bantul Senin (28/7).
Dikatakan, selama ini pupuk mahal dan subsidi terbatas. Itu menimbulkan keresahan petani. Dengan adanya bimtek itu diharapkan dapat mengedukasi dan mengajak masyarakat beralih menggunakan pupuk organik. Kesuburan tanah bukan hanya berdampak pada produktivitas. Tapi juga menyangkut kesehatan lingkungan dan hasil pertanian itu sendiri.
“Pupuk organik adalah jalan kita mengembalikan kadar tanah yang sudah rusak. Menjaga lingkungan, sekaligus membuka potensi pasar baru. Sekarang pasar modern pun sudah banyak yang hanya mau menerima produk pertanian organik,” kata Ndari, sapaan akrabnya.
Kini beberapa kelompok tani mulai memproduksi pupuk organik secara masal untuk dijual ke kelompok lain. Misalnya di Kapanewon Sewon, sudah ada yang mengolah dan menjual pupuk organik. Ini bisa menjadi solusi atas keterbatasan pupuk bersubsidi. "Harapannya, DIY siap menjadi sentra pupuk organik yang memenuhi kebutuhan lokal dan petani dari luar daerah,” tambahnya.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY Andi Nawa Candra menambahkan, sejak tiga tahun terakhir rutin menggelar bimtek pembuatan dan pemanfaatan pupuk organik.
Langkah ini didasarkan atas kondisi tanah DIY yang mulai rusak akibat alih fungsi lahan dan penggunaan pupuk kimia yang tidak seimbang.
Dikatakan, gubernur DIY sudah mengeluarkan surat edaran (SE) untuk mendorong pemanfaatan pupuk organik. Harapannya, ada perbaikan terkait cara petani bisa membuat pupuk organik yang lebih efektif.
Sampai sekarang Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY telah menggelar lebih dari 100 bimtek. Prioritasnya pada kelompok tani yang memiliki ternak. Alasannya, kotoran ternak menjadi bahan baku utama pembuatan pupuk organik.
“Kami datangkan narasumber tersertifikasi agar petani bisa membuat pupuk yang benar-benar berkualitas dan bisa langsung dirasakan manfaatnya,” lanjut Andi.
Ketua Koperasi UPPO Tani Mulyo Suhardiyana mengungkapkan, sejak 2008 memproduksi pupuk organik. Hasil fermentasi kotoran hewan. Cukup efektif untuk memperbaiki struktur tanah.
“Pupuk ini membuat tanah yang bantat jadi gembur. Kalau kita terus menerus pakai kimia, dalam 5–10 tahun lahan bisa jadi mati. Tak bisa ditanami lagi,” jelasnya.
Pupuk buatan Koperasi Tani Mulyo cocok untuk segala jenis tanaman. Baik tanaman pangan maupun hortikultura. Transisi menuju pertanian organik membutuhkan waktu tiga hingga lima tahun. Pertanian organik menjamin keberlanjutan lingkungan dan ketahanan pangan. (cr2/kus)
Editor : Sevtia Eka Novarita