Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Bunuh Diri Remaja di Imogiri Guncang Bantul: Evaluasi Perlindungan Anak Jadi Sorotan

Cintia Yuliani • Jumat, 25 Juli 2025 | 16:10 WIB
Mengatasi bullying.
Mengatasi bullying.

 

BANTUL – Kasus tragis meninggalnya seorang pelajar SMP asal Imogiri akibat bunuh diri jadi alarm bagi perlindungan anak. Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Bantul menyebut, masih banyak ruang yang perlu diperbaiki dalam sistem perlindungan anak, baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan.

Diketahui sebelumnya ADK pelajar berusia 14 tahun asal Imogiri meregang nyawa dengan cara bunuh diri. Alasannya lantaran masalah keluarga. Menurut Mukijo Guru Bimbingan Konseling, korban terkenal orang yang aktif mengikuti kegiatan di sekolahnya.

"Dia aktif, pernah jadi penguris perpus, dan mau mencalonkan diri jadi dewan penggalang," ujarnya saat ditemui di rumah duka, Kamis (24/7).

ADK dikenang sebagai anak yang percaya diri dan memiliki jiwa kepemimpinan. Ia menjadi wakil ketua kelas dan pada saat penutupan MPLS korban sempat bernyanyi di hadapan banyaknya murid baru di SMP-nya.

Kepala DP3AP2KB Ninik istiriani akan memberikan pendampingan dan pembinaan kepada adik dan kakak korban yang juga masih usia anak-anak. "Termasuk ibunya, karena sebagai perempuan ia juga menjadi bagian dalam perlindungan yang menjadi tugas kami,” jelasnya ditemui di rumah duka.

Meskipun informasi awal dari sekolah menyatakan tidak ada indikasi bullying terhadap korban, Ninik menegaskan pentingnya tetap mengampanyekan gerakan anti-bullying.

Ia juga mengakui layanan konseling seperti pusat pembelajaran keluarga (Puspaga) belum menjangkau seluruh wilayah Bantul secara maksimal. Ia berharap nanti bisa memperluas layanannya hingga tingkat kapanewon, supaya masyarakat terbiasa untuk terbuka dan memiliki keinginan untuk berkonsultasi.

"Jangan sampai aib atau masalah disembunyikan hingga menimbulkan beban mental bagi anak,” ungkapnya.

Sebenarnya sebelumnya DP3AP2KB juga telah melakukan tindakan untuk mencegah hal serupa tidak terjadi. Seperti selama masa Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), misalnya, DP3AP2KB telah mengirimkan psikolog ke sejumlah sekolah untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan minim tekanan.

 "Walaupun kami hanya punya satu psikolog di Puspaga, tetapi kami mempunyai jaringan kerja dengan beberapa instansi agar bisa menjangkau banyak anak," jelasnya. (cr2/pra)

Editor : Heru Pratomo
#Siswa SMP #masalah keluarga #Imogiri Bantul #DP3AP2KB #puspaga #kesehatan mental remaja #bunuh diri #bullying