BANTUL – Pada semester pertama 2025 kasus leptospirosis atau kencing tikus di Bantul mengalami kenaikan dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.
Menurut Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul, Samsu Aryanto mengatakan Januari hingga awal Juli 2025 kasus leptospirosis ditemukan sebanyak 160 orang yang terjangkit penyakit ini.
Sedangkan pada tahun sebelumnya hanya berkisar 81 kasus yang ditemukan.
“Kasus ini paling banyak muncul itu di Kapanewon Bantul sebanyak 32 kasus,” ujar Samsu saat dikonfirmasi kemarin, (6/7).
Sesuai penyelidikan yang dilakukan oleh Dinkes bantul, kasus yang ditularkan oleh urine tikus ini terbanyak disebabkan masuknya bakteri leptospira ke tubuh manusia melalui luka terbuka pada kulit.
Terutama saat kaki bersentuhan dengan air atau tanah yang terkontaminasi urine dan kotoran tikus.
“Aktivitas di tempat yang lembab dan kotor, tanpa menggunakan alat pelindung diri itu juga dapat meningkatkan risiko,” tambahnya.
Ia mengatakan gejala penderita yang mengalami penyakit leptospirosis mulai merasakan demam mendadak, sakit kepala, tubuh terasa lemas, mata merah, perubahan warna kulit menjadi kekuningan, dan nyeri otot.
Dinkes Bantul juga menyarankan jika mengalami gejala tersebut, segera mendatangi rumah sakit terdekat agar dilakukan pelayanan dan penangan pasien melalui uji laboratorium. Petugas terkait nantinya dapat mendiagnosa keluhan dari pasien lebih dini.
Setelah dilakukan tindakan, pasien nantinya akan diberi obat, selanjutnya petugas dapat melakukan penyelidikan untuk mengetahui besaran risiko penularan agar sebaran kasus bisa dikendalikan.
Untuk menekan angka kasus ini, Dinkes Bantul melakukan upaya peningkatan surveilans deteksi dini dan respon leptospirosis, memperkuat jejaring fasilitas kesehatan dalam pelaporan, investigasi, dan tatalaksana kasus, meningkatkan koordinasi lintas sektor, dan meningkatkan edukasi kepada masyarakat.
“Kami melakukan peningkatan edukasi dengan sosialisasi tentang pencegahan leptospirosis melalui tatap muka maupun media sosial,” tuturnya.
Jika sudah terlanjur terjangkit penyakit ini, kata dia butuh waktu satu sampai dua minggu untuk sembuh dari leptospirosis ini.
Maka dari itu, ia mengimbau masyarakat agar dapat meningkatkan kesadaran dalam berperilaku hidup bersih, meningkatkan pengetahuan dalam mengenali gejala leptospirosis untuk segera mendapatkan penanganan medis, dan menjaga kebersihan lingkungan sehingga dapat meminimalisir tempat perindukan tikus sebagai salah satu faktor penularan leptospirosis.
Baca Juga: Buang Sampah di Sungai Kota Jogja Masih Marak, Pemkot Jogja Gelar Aksi Bersih-Bersih
Leptospirosis atau yang sering dikenal sebagai penyakit kencing tikus ini yakni penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri leptospira yang ditularkan oleh urine tikus. (Cr2)