BANTUL - Pembangunan Jembatan Pandansimo yang menghubungkan Kabupaten Bantul dan Kulon Progo resmi kelar. Saat ini, proyek strategis itu tinggal menunggu uji kelayakan sebelum dapat dioperasikan untuk publik.
"Uji kelayakan selesai dalam dua minggu, tetapi pelaksanaannya belum dipastikan," jelas Koordinator Pengawas Lapangan PPK 1.4 DIY Vederieq Yahya saat ditemui di plaza Jembatan Pandansimo Senin (30/6).
Ia juga belum memastikan waktu pembukaan jembatan ini bisa digunakan oleh umum. Pihaknya baru mengurus surat untuk uji kelayakan. "Ini lagi proses bersurat, biasanya di waktu dekat bisa diambil," terangnya.
Kontrak pembangunan telah diselesaikan dua pekan lalu. Proyek yang semula dirancang sepanjang 1,9 kilometer akhirnya dikerjakan hingga 2,4 kilometer karena adanya penyesuaian dan tambahan konstruksi, termasuk opitan di sisi jembatan.
"Secara kontrak, jembatan ini sudah selesai. Sekarang kita tinggal menunggu uji kelayakan untuk memastikan semua fungsi dan struktur berjalan dengan aman," katanya.
Jembatan Pandansimo dinilai istimewa karena mengusung empat teknologi mutakhir. Pertama, penggunaan corrugated steel plate (CSP) sebagai struktur utama jembatan menjadikannya ringan, kuat, dan efisien dalam waktu serta biaya konstruksi.
Kedua, teknologi lead rubber bearing (LRB) diterapkan untuk meredam energi gempa, mengurangi deformasi, dan memperpanjang usia struktur. “Ini penting karena lokasi jembatan berada di kawasan rawan gempa dan likuifaksi,” jelas Vederieq.
Ketiga, konstruksi menggunakan MSE Wall (mechanically stabilized earth wall) di area jalan pendekat guna mengatasi keterbatasan lahan. Teknologi ini dinilai lebih tahan terhadap pergerakan tanah dibanding dinding beton konvensional.
Keempat, pemakaian mortar busa sebagai material pengisi jalan pendekat membuat struktur menjadi lebih ringan, mempercepat pembangunan, dan mampu menyerap getaran.
Menariknya, jembatan ini juga dirancang sebagai ruang publik terbuka. Tiga plaza disiapkan di sisi barat, tengah, dan timur jembatan. Setiap plaza dilengkapi CCTV, dan sound system, namun tidak diperbolehkan ada kendaraan yang parkir di dekatnya.
"Pengunjung nantinya wajib berjalan kaki untuk menikmati spot foto yang tersedia di plaza. Kendaraan tidak boleh berhenti di tengah jembatan,” tegasnya.
Dari segi lanskap, jembatan akan dipercantik dengan aneka tanaman seperti lohansung, cempaka putih, sawo kecik, cemara laut, soka, dan trembesi. Tanaman ini dipilih karena tahan terhadap angin laut serta dapat menyerap polusi dan meredam kebisingan.
Sementara itu, Sekretaris Komisi C DPRD DIY Koeswanto mengapresiasi rampungnya pembangunan yang dimulai sejak 17 November tahun lalu itu. Ia menyebut jembatan ini sebagai penghubung strategis antarprovinsi sekaligus penunjang jalur lintas selatan.
"Ini adalah aset nasional yang bisa mendorong pemerataan pembangunan dan ekonomi, khususnya di kawasan selatan DIY. Warga perlu menjaga dan merawat agar manfaatnya tidak sia-sia," ujarnya. (cr2/laz)