Hingga 24 Juni 2025, sebanyak 79 kejadian kebakaran telah ditangani oleh tim Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) BPBD Bantul.
Kerugian materiil yang ditimbulkan pun tak sedikit. Total kerugian akibat kebakaran mencapai lebih dari Rp 3,3 miliar.
Berdasarkan data Damkarmat, penyebab kebakaran paling banyak adalah korsleting listrik, yaitu sebanyak 39 kejadian.
“Kasus paling banyak tetap karena korsleting listrik, disusul kebocoran gas dan kelalaian,” ujar Kabid Damkarmat BPBD Bantul, Irawan Kurnianto, saat dikonfirmasi Radar Jogja, Selasa (24/6).
Selain korsleting, kebocoran gas juga menjadi penyebab yang cukup menonjol, yakni 17 kejadian, diikuti kelalaian sebanyak 16 kejadian.
Bahkan, terdapat dua kasus kebakaran akibat kesengajaan, salah satunya karena konflik keluarga.
"Ada perkelahian antar saudara yang berujung pembakaran motor, lalu merambat ke rumah,” jelasnya.
Sementara itu, 10 kejadian kebakaran lainnya sampai saat ini belum diketahui penyebabnya. Kebakaran karena membakar sampah dan barang bekas terjadi satu kasus.
Irawan mengimbau masyarakat agar lebih waspada dan memperhatikan standar keamanan, terutama dalam penggunaan peralatan listrik.
Ia menekankan pentingnya menggunakan alat berstandar SNI dan menghindari praktik yang membahayakan seperti penggunaan stop kontak bertumpuk.
Lepaskan peralatan listrik jika sudah tidak terpakai dan diimbau untuk selalu mengecek kembali sebelum bepergian.
"Jangan membakar sampah dekat bahan yang mudah terbakar, apalagi saat angin kencang,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar warga menyediakan APAR (Alat Pemadam Api Ringan) di rumah.
Jika terjadi kebakaran atau kondisi darurat lainnya, masyarakat dapat segera menghubungi Pusdalops BPBD Bantul di 0274 6462100 (call/WA) atau Call Center Bantul 112 yang bebas pulsa. (cr2)
Editor : Bahana.