BANTUL – Dalam dua hari terakhir, Kabupaten Bantul diguncang dua kasus bunuh diri yang terjadi di Kapanewon Banguntapan dan Dlingo.
Kasus bunuh diri di Banguntapan terjadi pada Sabtu (14/6), sedangkan di Dlingo terjadi pada Minggu (15/6).
Diduga dua kasus tersebut dipicu karena depresi dengan permasalahan keluarga.
Kedua kasus ini menambah catatan angka bunuh diri di Bantul menjadi delapan kasus sepanjang 2025.
Kepala Seksi Gizi, Kesehatan Keluarga, dan Kesehatan Jiwa (Dinas Kesehatan) Dinkes Bantul Siti Marlina menyebut sebelumnya hingga Mei 2025 tercatat sudah ada enam kasus bunuh diri.
Penambahan dua kasus terbaru membuat angka tersebut kini menyentuh delapan kasus.
“Sebagian besar kasus memiliki riwayat gangguan kejiwaan seperti depresi, penyakit kronis seperti jantung dan stroke, juga faktor ekonomi dan pernah memiliki riwayat percobaan bunuh diri sebelumnya,” ujar Marlina saat dikonfirmasi Senin (16/6).
Menanggapi hal ini, Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengajak masyarakat untuk tidak menyerah saat menghadapi tekanan hidup.
Ia menegaskan bunuh diri bukan solusi, justru memperpanjang persoalan dan trauma bagi keluarga yang ditinggalkan. Apalagi jika korban bunuh diri meninggalkan istri dan anak.
"Hadapilah masalah dengan sabar, jangan sendiri. Semua orang punya masalah,” ujar Halim saat ditemui di Lapangan Trirenggo Senin (16/6).
Menurutnya banyak orang mempunyai masalah mungkin lebih berat, tetapi tetap bisa menghadapi dengan cara yang wajar.
"Siapa pun yang menghadapi masalah dan menghadapi tekanan bahwa Anda tidak sendiri," pesannya.
Halim mengatakan seluruh umat manusia di dunia sama-sama memiliki tekanan dan masalah. Namun tingkatan tekanannya berbeda-beda.
Untuk mengatasi persoalan tersebut Pemkab Bantul juga telah membuka layanan Pusat Tanggap Gangguan Kejiwaan (Pustaga).
Masyarakat yang membutuhkan bisa memanfaatkan layanan Pustaga untuk membantu persoalan masalah yang dihadapi yang berkaitan dengan kejiwaan.
Di Pustaga juga telah ada psikolog yang ditugaskan. Mereka siap memberi asistensi dan advokasi kepada siapa saja.
"Terutama keluarga yang menghadapi persoalan kejiwaan dan psikis,” tambah Halim. (cr2)
Editor : Bahana.