BANTUL - Penemuan kasus HIV/AIDS di Bantul mengalami fluktuasi dalam tiga tahun terakhir.
Dinas Kesehatan Bantul mencatat, pada 2022 ditemukan 160 kasus, naik menjadi 180 kasus pada 2023, lalu turun menjadi 169 kasus di 2024.
Sementara itu, hingga Maret 2025, sudah ditemukan 37 kasus baru.
Kepala Seksi Bidang Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Bantul Vera Fenanose menyampaikan, data kasus HIV/AIDS bersifat kumulatif.
Artinya, jumlah kasus yang ditemukan setiap tahun akan terus ditambahkan pada total kasus sebelumnya.
“Intinya semua penyakit itu harus kita temukan dan harus segera di obati, agar tidak menular,” ujarnya Rabu (4/6).
Vera membandingkan penularan penyakit TBC dan HIV/AIDS.
Menurutnya, penularan HIV/AIDS tidak semudah TBC.
Jika TBC bisa menular lewat percikan ludah saat berbicara, HIV/AIDS hanya bisa menular melalui pertukaran cairan tubuh atau darah.
Karena itu, skrining HIV/AIDS dilakukan pada populasi dengan risiko tinggi.
“Misalnya pekerja seks, LSL (Lelaki seks dengan Lelaki, red), Ibu hamil sesuai program juga kita skrining, pasien TBC juga,” terangnya.
Dinkes Bantul memiliki peta populasi berisiko HIV/AIDS beserta lokasinya.
Skrining dilakukan secara kolaboratif dengan dua komunitas pemerhati HIV yang memiliki akses langsung ke populasi rentan.
Kegiatan ini biasanya dilakukan secara mobile ke lokasi.
“Orang-orang yang sadar dengan kondisinya biasanya rutin ikut saat kita datang mobile visit. Tapi ada juga yang sulit dijangkau. Itu kita gandeng tokoh masyarakat,” imbuhnya.
Populasi usia produktif, yakni 20 sampai 40-an tahun, menjadi kelompok usia yang paling banyak ditemukan mengidap HIV/AIDS.
Pemerintah juga memberikan pengobatan HIV secara gratis. Obat-obatan dikirim langsung dari pemerintah pusat berdasarkan kebutuhan daerah.
“Sampai saat ini pengidap HIV/AIDS diberi obat gratis seumur hidup. Setelah itu dicek berkala untuk melihat apakah virusnya menurun atau tidak,” jelasnya.
Pemeriksaan lanjutan dilakukan setelah enam bulan pertama pengobatan, kemudian dilanjutkan satu kali per tahun.
Pemeriksaan bisa dilakukan di puskesmas, Laboratorium milik Pemkab Bantul, atau di RS Panembahan Senopati.
Ia mengimbau masyarakat untuk memahami cara penularan HIV/AIDS. Penularan tidak terjadi lewat sentuhan fisik biasa, tetapi lewat perilaku seks menyimpang, lewat cairan, dan darah.
"Kalau salaman atau bersentuhan saja itu tidak menularkan HIV,” tegasnya. (cr2)
Editor : Bahana.