Keberadaan moda transportasi daring seperti ojek dan taksi online dinilai menjadi salah satu penyebab utama menurunnya jumlah penumpang angkutan konvensional, termasuk bus-bus trayek dalam dan antar wilayah.
“Sekarang angkutan konvensional saja itu juga berkurang banyak di Bantul, karena adanya taksi online, ojek online itu kan sangat berpengaruh,” ujar Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Bantul Singgih Riyadi saat ditemui di kantornya Senin (2/5).
Ia menambahkan bahwa trayek-trayek bus konvensional yang sebelumnya aktif kini sudah hampir tidak beroperasi.
Jurusan populer seperti Jogja–Parangtritis dan trayek di Jalan Imogiri Timur yang dulu ramai, kini nyaris tidak ada.
“Sekarang hampir ngga ada jurusan Jogja–Parangtritis, jalan Imogiri Timur, itu kan ada jurusan Terminal Giwangan ke Imogiri, sekarang berkurang juga. Mungkin pengaruh itu juga,” lanjutnya.
Selain tergeser oleh transportasi online, masyarakat juga dinilai lebih nyaman menggunakan kendaraan pribadi, khususnya sepeda motor.
Kemudahan dalam memiliki kendaraan bermotor, terutama melalui skema kredit ringan, menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.
“Sekarang sepeda motor aja kredit 300 ribu dapat motor, mudah sekali, sehingga kesadaran masyarakat untuk menggunakan jasa angkutan umum itu masih sangat rendah,” ucapnya.
Padahal, Dishub Bantul mengaku memiliki tekad yang kuat untuk mendorong masyarakat kembali menggunakan transportasi umum.
“Kita berupaya mensosialisasikan, kemudian dari sisi pemerintah kita juga berusaha untuk menyediakan sarana transportasi umum yang lebih memadai,” tegasnya.
Salah-satu bentuk upaya tersebut adalah kerja sama dengan Trans Jogja untuk menyediakan jalur dari Terminal Palbapang hingga Malioboro. Jalur ini disebut cukup diminati masyarakat.
“Yang sekarang ini banyak peminatnya kan kita bekerja sama dengan Trans Jogja untuk jalur Terminal Palbapang sampai ke Malioboro, peminatnya banyak sekali,” jelasnya.
Selain itu, pihaknya juga telah mengajukan usulan ke Dishub DIY untuk membuka jalur baru menuju kawasan Makam Raja-Raja Imogiri.
“Itu baru dikaji oleh Dishub DIY, dikaji jalurnya, disurvei peminatnya seberapa jauh peminatnya,” ujarnya.
Dulu, angkutan bus swasta sempat merajai trayek-trayek lokal di Bantul seperti Dongkelan, Palbapang, hingga Terminal Giwangan ke Imogiri.
Bahkan Jalan Imogiri Barat pun memiliki trayek bus. Namun karena sepinya penumpang, banyak operator swasta menghentikan operasional mereka.
“Tapi karena sepinya penumpang mereka kan ngga mau rugi, mereka memberhentikan operasional. Sekarang yang ada ya Trans Jogja, Trans Jogja kan modelnya subsidi dari pemerintah,” tuturnya.
Selain Trans Jogja, saat ini juga tersedia trayek jalur Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) yang menggunakan bus dari Sinar Jaya.
Namun, peminat jalur ini dinilai belum terlalu tinggi, karena sifatnya yang lebih musiman dan bergantung pada volume wisatawan.
“Peminatnya ada tapi ngga terlalu melonjak, kadang karena jarang juga kan wisatawan itu, tapi jalur itu ada, disediakan,” pungkasnya. (cr2)
Editor : Bahana.