Keris tersebut dibeli langsung oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Kamerun, Agung Cahaya Sumirat, yang merupakan putera asli Kulon Progo, Yogyakarta.
Keris Jogja yang dibeli ini bukan sekadar senjata tradisional, melainkan warisan budaya yang sarat makna filosofis.
Agung membeli dua keris dari perajin lokal untuk dijadikan hadiah kenegaraan kepada Presiden Kamerun.
Ia membeli keris langsung ke sentra kerajinan keris di Bantul yakni berada di Banyusumurup, Kapanewon Imogiri.
“Beliau tahu tentang keris ini dari hasil pencarian di Google," ujar Sutomo pengrajin keris Minggu (1/6).
Berkat brand yang dibangun oleh Sutomo lewat internet, kerajinan keris yang ia buat akhirnya bisa menjadi simbol budaya Indonesia sampai ke Negara Kamerun.
Menurut Sutomo, Agung membeli keris tersebut belum lama ini. "Pengiriman ke Jakarta dulu, sekarang dalam perjalanan ke Kamerun,” ujarnya.
Sutomo mengaku bangga produknya dibeli oleh seorang duta besar untuk diberikan kepada kepala negara.
“Lewat keris ini kita bisa melestarikan budaya, sekaligus mengenalkan bahwa di Jogja itu ada warisan leluhur yang sangat berharga,” katanya.
Menariknya, ini bukan kali pertama tokoh penting datang ke tempatnya. Sebelumnya, anak dari Menteri Agama era Presiden Susilo Bambang Yudoyono Suryadharma Ali, juga sempat berkunjung dan membeli keris di tokonya yang Ia beri nama Pengrajin Keris Djiwodiharjo.
Nama tokonya berasal dari nama asli orang tua Sutomo. Sutomo adalah penerus usaha orang tuanya. Terhitung Sutomo generasi ketiga yang meneruskan usaha kerajinan keris Djiwodiharjo.
Kurang lebih 50 tahun usahanya berjalan dari lintas generasi sudah banyak penghargaan yang diterima, karena menjadi salah satu pengrajin keris yang terus melestarikan kebudayaan di Jogja.
"Sudah ada 30 penghargaan bahkan lebih, itu yang tertera, belum yang tidak tertera," tuturnya.
Berbagai prestasi yang didapat termasuk beberapa tokoh besar memilih membeli keris di tempat usahanya menjadi salah satu semangat Sutomo dalam melestarikan budaya.
Pemberian keris kepada Presiden Kamerun juga diharapkan menjadi simbol persahabatan kedua negara serta memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara ke panggung internasional. (cr2)
Editor : Bahana.