Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Hampir Seluruh Wilayah Kabupaten Bantul Rawan Gempa, Mitigasi Jadi Kunci Keselamatan

Cintia Yuliani • Rabu, 28 Mei 2025 | 06:45 WIB
Tempuran Sungai Opak dan Oya di Potrobayan, Srihardono, Pundong yang menjadi lokasi titik gempa 19 Tahun Silam di Bantul
Tempuran Sungai Opak dan Oya di Potrobayan, Srihardono, Pundong yang menjadi lokasi titik gempa 19 Tahun Silam di Bantul

BANTUL - Secara geografis, hampir seluruh wilayah Bantul tergolong rawan gempa. Hal ini disebabkan oleh dua sumber utama gempa di wilayah ini. Yakni Sesar Opak yang berada di daratan, dan zona megathrust di pertemuan Lempeng Indo-Australia dan Eurasia yang berada di sisi selatan Pulau Jawa.

Kedua sumber gempa ini saling berpotensi memicu satu sama lain. Gempa yang bersumber dari laut bahkan berpotensi menimbulkan tsunami.

Namun, hingga saat ini, pencegahan gempa dan tsunami belum memungkinkan. Yang bisa dilakukan adalah menyiapkan langkah-langkah kesiapsiagaan dan mitigasi.

Termasuk sosialisasi, pelatihan, dan simulasi di berbagai level, terutama melalui program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) dan gerakan Siap Warga Tangguh Bencana (SITATANG).

“Mitigasi kita lakukan lewat sosialisasi di semua lapisan, mulai dari satuan pendidikan, komunitas, sampai perguruan tinggi” jelas Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul Agus Yuli Herwanta Selasa (27/5).

Dari pemerintah sudah banyak dilakukan simulasi potensi gempa hingga magnitudo 8 sampai 9, dan potensi tsunami hingga 20 meter.

Catatan gempa di Bantul menunjukkan aktivitas gempa kecil hampir terjadi setiap hari. Dengan magnitudo 1 hingga 2 yang tidak terasa oleh penduduk.

Namun, gempa yang mulai terasa biasanya terjadi di atas magnitudo 4, dengan kedalaman sekitar 10 kilometer. Gempa terakhir yang menimbulkan kerusakan tercatat pada Juni 2023, dengan magnitudo 4 yang menyebabkan retaknya beberapa rumah.

Namun saat disinggung soal keberadaan early warning system (EWS) di Bantul, Agus menyebut jumlahnya jauh dari kata ideal. Sebab saat ini, Bantul hanya memiliki 29 unit EWS. Itu pun untuk tsunami yang berada di area pesisir. 

"Kebutuhan ideal hasil asesmen kami seharus di wilayah pesisir EWS mencapai 70 unit,” jelas Agus. 

Dalam hal infrastruktur, kesadaran masyarakat terhadap bangunan tahan gempa juga terus meningkat pasca-gempa besar 2006. Saat ini, meskipun belum seluruhnya, sudah lebih banyak rumah yang dibangun dengan konstruksi tahan gempa sesuai standar SNI.

Seperti penggunaan kontruksi semen dan ikatan antartitik struktur bangunan yang lebih kuat.

"Dulu rumah saya roboh, sampai orang tua saya luka berat dan akhirnya meninggal setelah dua tahun bertahan," jelas Sugiyem mengingat kejadian gempa di Bantul 19 tahun silam.

Hari peringatan gempa Bantul seharusnya menjadi momentum refleksi bersama, bahwa kesiapsiagaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi juga masyarakat. (cr2/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#early warning system (EWS) #Lempeng Indo-Australia #kabupaten bantul #gempa #Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) #rawan gempa #Geografis #megathrust #Bantul #sesar opak #eurasia