Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Yatim-Piatu dan Ditinggal Mati Kakak Satu-Satunya, Bocah Tetangga Bupati Bantul Ini Sempat Ingin Putus Sekolah

Winda Atika Ira Puspita • Sabtu, 24 Mei 2025 | 04:14 WIB
TETAP SEMANGAT: Dari kiri, Edi Susanto, Deswita Anindya dan Aryunadi.
TETAP SEMANGAT: Dari kiri, Edi Susanto, Deswita Anindya dan Aryunadi.

RADAR JOGJA - ”Bu, saya sudah tidak punya siapa-siapa. Saya belum ikhlas,” ucap Rohaya, seorang guru MTs N 3 Bantul menirukan ucapan Deswita Anindya saat curhat kepadanya.

Fragmen dialog mengharukan antara guru dan siswinya itu terjadi sekitar dua hari setelah kakak kandung Deswita meninggal dunia Rabu (14/5/2025).

”Itu (curhat, Red) hari pertama dia masuk sekolah usai kakaknya meninggal dunia,” tutur Rohaya kepada rombongan pegiat pendidikan di MTs N 3 Bantul Rabu (21/5/2025).

Ya, nasib kelanjutan pendidikan salah satu siswi kelas VII MTs N 3 Bantul itu memantik simpati sejumlah pihak.

Sebab, Anggiya Aldiana, kakak kandungnya, merupakan satu-satunya keluarga terdekatnya yang masih tersisa ternyata meninggal dunia.

”Dia (Deswita, Red) memang yatim-piatu sejak kecil,” ucap Rohaya.

Sebagai guru, Rohaya sangat memahami situasi yang dialami Deswita. Berat. Selama ini, Deswita tinggal bersama kakak kandungnya setelah kedua orang tuanya meninggal dunia.

Kakak kandungnya pula yang mencukupi kebutuhan sehari-harinya. Itu pun masih jauh dari cukup.

”Terkadang saat jam istirahat dia di ruangan ini. Nggak mau keluar bersama teman-temannya karena tidak punya uang jajan,” timpal salah satu staf MTs N 3 Bantul.

Karena itu pula, Deswita sempat ingin putus sekolah. Tidak ingin melanjutkan pendidikannya. Selain tidak memiliki keluarga lagi, tak ada lagi yang memberikannya uang saku.

”Saya bisanya cuma memberikan semangat. Pokoknya harus sekolah,” pesan Rohaya kepada Deswita saat itu.

Rohaya juga menyarankan Deswita tinggal di panti asuhan. Agar pendidikannya bisa tetap berjalan.

Namun, Deswita enggan. Sebab, kakak kandungnya sebelum meninggal dunia punya pesan khusus kepada Deswita.

”Deswita diminta untuk menjaga keponakannya (anak kakak kandungnya, Red) yang masih berusia 20 bulan,” katanya.

Kendati begitu, seluruh kebutuhan pendidikan Deswita dalam setahun ke depan telah tercukupi. Mulai biaya sekolah hingga sumbangan lainnya.

”Totalnya sekitar 1,4 juta per tahun. Sudah ada yang menanggung kok,” ucap Rohaya.

Mendengar penjelasan itu, Aryunadi, salah satu rombongan pegiat pendidikan merasa lega. Sebab, dia khawatir pendidikan Deswita bakal terbengkalai.

”Pemerintah harus hadir untuk melindungi ketika melihat kondisi salah satu warganya seperti ini,” tegas Aryun, sapaan Aryunadi.

Politikus PDI Perjuangan ini pun memutuskan ikut membantu keberlanjutan pendidikan Deswita. Dengan memberikan uang saku sekolah untuk Deswita.

”Nanti saya titipkan ke sekolah ya. Saya transfer tiap bulan. Biar bisa diberikan tiap hari kepada anaknya. Nanti anaknya juga perlu sering disapa,” pesan pria yang menjabat tenaga ahli Wakil Ketua MPR RI Bambang Wuryanto ini.

Usai dari sekolah, Aryun bersama rombongan mengunjungi tempat tinggal Deswita. Letaknya di Padukuhan Karangasem, Wukirsari, Imogiri.

Satu kalurahan dengan Bupati Bantul Abdul Halim Muslih. Di rumah itu, Aryun bertemu dengan Edi Susanto, kakak iparnya.

Deswita kemudian pulang menyusul usai memberikan les pelajaran kerajinan tangan kepada salah satu anak tetangganya.

”Tadi ngajarin membuat kerajinan sendok,” menjawab pertanyaan Aryun.

Rasa kehilangan masih tampak. Meski, bocah berkulit sawo matang ini berusaha menutupi wajah polosnya dengan senyuman.

Deswita bercerita dalam beberapa tahun tinggal bersama kakak kandungnya. Setelah ayahnya meninggal ketika Deswita masih duduk di bangku kelas I SD. Sejak itu, dia menganggap kakaknya sekaligus sebagai orang tuanya.

”Ibu meninggal pas melahirkan saya,” tutur bocah kelahiran 19 Desember 2011 ini.

Dengan dukungan berbagai pihak, Deswita berjanji bakal melanjutkan pendidikannya. Hingga ke jenjang perkuliahan. ”Ingin jadi perawat,” ujar Deswita ketika disinggung cita-citanya. (zam)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#putus sekolah #wakil ketua mpr ri #bambang wuryanto #Panti Asuhan #politikus PDI Perjuangan #yatim piatu