BANTUL – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bantul memperketat pengawasan terhadap kesehatan hewan kurban.
Petugas tetap akan memeriksa kondisi fisik hewan secara langsung meski sudah mengantongi Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dari daerah asal.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Joko Waluyo menyampaikan, hal ini dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan penularan penyakit selama perjalanan hewan ke Bantul.
"SKKH itu dari daerah asal, tapi di perjalanan bisa saja tertular penyakit. Karena itu tetap kami periksa fisiknya," jelasnya, Kamis, (16/5).
Menurut dia, pengawasan telah dilakukan sejak April 2025. Di berbagai titik seperti pasar hewan dan tempat penampungan ternak.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, kata dia, penyakit antraks yang merupakan zoonosis dan penyakit menular lain menjadi perhatian. Terutama hewan ternak dari Gunungkidul.
“Kami ingin pelaksanaan kurban tidak justru menimbulkan masalah kesehatan masyarakat," ujarnya.
Hingga pertengahan Mei, dinas belum menemukan kasus penyakit menular berbahaya pada hewan kurban. Namun, Joko menekankan kewaspadaan terhadap penyakit antraks, yang dapat berdampak fatal baik bagi hewan maupun manusia.
Kalau antraks terjadi di Bantul, lanjut dia, akan berpengaruh besar ke sektor ekonomi.
“Ini penyakit zoonosis, yang menyerang tidak hanya tulang besar, tapi juga tulang kecil. Kalau sampai menyerang, bisa lumpuh perekonomian kita," tegasnya.
Ia juga menyebut penyakit penyakit mulut dan kuku (PMK) sempat menjadi perhatian di tahun-tahun sebelumnya di Bantul. Meskipun PMK bukan termasuk zoonosis.
Ia juga menambahkan, untuk kebutuhan hewan kurban di Bantul, Joko memastikan stok dalam kondisi aman. Bahkan dua ekor sapi dari wilayah Dlingo dan Pleret telah disiapkan untuk Presiden.
"Insyaallah stok tercukupi. Kita hanya bisa berharap tahun ini semua berjalan baik dan tidak ditemukan penyakit pada hewan kurban di Bantul," tuturnya.
Sebelumnya Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setprov DIJ Tri Saktiyana dalam pemantaun di Bantul, Kamis (15/5) memperkirakan, ada sedikit penurunan kebutuhan hewan kurban dibandingkan tahun lalu.
Penurunan ini dipengaruhi oleh kondisi ekonomi secara global maupun nasional yang belum sepenuhnya membaik.
“Faktor yang mempengaruhi kondisi ekonomi dunia, lokal, dan nasional yang belum membaik, sehingga jumlah sapi dan kambing memang sedikit menurun. Ini juga berlaku di DIJ,” ungkapnya.(cr2/pra)
Editor : Heru Pratomo