Hal ini dipicu oleh penyerapan gabah oleh Bulog dan terbatasnya luas sawah di Bantul.
Dwi, 25, salah satu pedagang beras di Bantul, mengaku kini lebih sering membeli beras dari daerah lain seperti Purworejo dan Sragen.
Ia menyebut harga beras dari Bantul relatif lebih tinggi dibandingkan daerah lain.
“Sekarang banyak panenan, apalagi di sawah-sawah luas seperti di Purworejo dan Sragen. Jadi stok melimpah,” kata Dwi saat ditemui di lapaknya.
Menurutnya, keterbatasan lahan pertanian di Bantul menjadi penyebab pasokan lokal lebih sedikit.
“Kalau di Bantul susah cari satu truk, sawahnya tidak seluas di daerah lain. Biasanya disimpan petaninya sendiri,” tambahnya.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, Joko Waluyo, membenarkan bahwa saat ini Bulog aktif menyerap gabah dari petani.
“Mulai tahun ini Bulog menyerap gabah cukup tinggi. Petani panen, langsung dibeli Bulog dengan harga Rp 6.500 per kilogram gabah kering panen,” ujarnya pada Rabu, (14/05).
Menurutnya, penyerapan oleh Bulog menyebabkan sebagian petani tidak menjual gabah ke pasar umum, melainkan menyimpannya untuk kebutuhan sendiri.
"Petani mungkin sebagian disimpan di rumah untuk persediaan. Tapi yang lain banyak dijual ke Bulog,” jelasnya.
Dinas mencatat luas lahan sawah di Bantul mencapai 13.991 hektare, namun tak semuanya aktif ditanami karena ada penyusutan akibat alih fungsi lahan.
Meski begitu, pemerintah tetap berupaya mempertahankan 12.831 hektare melalui Peraturan Daerah tentang Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).
“Luas tanam kita pada April hampir 4.800 hektare. Itu paling luas dibanding bulan lain,” imbuh Joko.
Ia juga menuturkan bahwa dengan harga pembelian gabah Rp 6.500, petani tetap memperoleh keuntungan yang layak.
"Petani bisa untung sampai Rp 40 juta dalam tiga setengah tahun,” pungkasnya.
Editor : Bahana.