Sejak pandemi COVID-19 melanda, minat masyarakat terhadap gerabah menurun drastis. Hal ini berdampak langsung pada keberlangsungan usaha para perajin.
"Setelah pandemi gerabah agak turun drastis. Dulu saya ikut bekerja sebagai pengecat gerabah, tapi ternyata sekarang penghasilannya ngga bisa buat bertahan hidup," jelas Tuti warga asli Kasongan pada Selasa, (12/05).
Sekarang ia lebih memilih beralih profesi menjadi penjaga toko alat tulis, karena menurutnya penghasilan yang didapat lebih menguntungkan dibandingkan terus menjadi karyawan perajin gerabah.
Keluhan yang sama, juga dialami oleh Pairan pengrajin gerabah yang mengatakan bahwa, "setelah pandemi sepi, pada saat sebelum pandemi wah ramai sekali, dulu yang paling banyak dicari kerajinan gerabah jenis wastafel." tegasnya.
Karena peminat gerabah menurun, Pairan terpaksa mengurangi karyawan yang dulunya berjumlah enam sekarang tersisa tiga karyawan saja.
"Dulu saya membakar gerabah satu minggu sekali, sekarang menjadi tiga minggu sekali, karena yang beli lebih sedikit," tambahnya.
Hartana yang akrab disapa Tono mengungkap bahwa perajin di Kasongan telah menyusut tajam.
"Dulu perajin sampai 250-an orang, sekarang sudah jauh berkurang. Bahkan kantor yang dulu mengurusi usaha gerabah pun sekarang sudah tidak ada," jelasnya.
Untuk mengatasi penurunan minat gerabah di Kasongan, Hartana kini mengembangkan konsep wisata edukasi di kiosnya.
Wisatawan yang berminat bisa langsung datang mencoba membuat gerabah di kios miliknya yang diberi nama Citra Ceramic.
"Biayanya Rp 100 ribu per orang, kalau mau gerabahnya dibakar tambah Rp 5 ribu," tuturnya.
Harapannya agar minat wisatawan kepada gerabah di Kasongan naik kembali. (cr2)
Editor : Bahana.