Meski hanya sempat mengenyam bangku sekolah hingga kelas dua SD, ketekunannya menekuni kerajinan tanah liat sejak kecil membuahkan hasil.
Ia mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi, bahkan hingga lulus sarjana.
"Saya sekolah cuma sampai kelas dua SD, orang tua sudah nggak mampu. Tapi anak saya yang paling kecil bisa kuliah sampai lulus di UPY, jurusan pendidikan, sekarang sudah ngajar," kata Pairan saat diwawancarai oleh Radar Jogja pada Senin, (12/05).
Sejak kecil, Pairan sudah ikut orang tuanya berjualan gerabah keliling pasar.
Bahkan ia pernah menjajahkan gerabah jualannya sampai daerah Candi Prambanan dengan mengayuh sepeda ontel miliknya.
Dulu, orang tuanya hanya membuat Anglo dan kwali saja tanpa memiliki kios sendiri.
Kini, Pairan bisa membuka kios sendiri dan mempunyai tempat khusus pembuatan gerabah. Produksi gerabahnya dibuat menjadi wastafel, pot, patung, hingga air mancur.
Namun, usaha gerabah yang ia geluti puluhan tahun itu tak lepas dari tantangan.
Selain cuaca yang tidak menentu, biaya produksi juga terus naik.
"Tanah sekarang mahal, kayu buat bakar juga mahal. Kalau musim hujan susah mbakar, tanah dan kayu basah, nggak bisa cepat kering," ujarnya.
Meski demikian, pesanan tetap datang, meski tak seramai sebelum pandemi.
Pembelinya berasal dari berbagai daerah, dari Magelang, Semarang, hingga Bandung dan Bali. Meskipun sebagian besar tetap dari sekitar Bantul.
Kini, salah satu anak Pairan mengikuti jejaknya dengan membuka usaha gerabah sendiri.
Meski tidak mudah, Pairan berharap generasi sekarang tetap mau melanjutkan usaha ini.
"Kalau nggak tekun ya susah. Tapi kalau sabar, hasilnya bisa untuk hidup dan menyekolahkan anak," tambahnya. (cr2)
Editor : Bahana.