BANTUL - Banjir yang sempat terjadi di Kapanewon Imogiri, Bantul pada Maret lalu membuat Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq turun langsung melakukan peninjauan Minggu (20/4). Sasaran utamanya adalah kawasan Embung Imogiri.
Dia menyebut, kementeriannya telah menganalisa lanskap di Imogiri pasca-banjir Maret lalu. Berdasarkan analisa tersebut, ada perubahan tutupan hutan yang signifikan di daerah aliran sungai (DAS) di DIY.
"Di bagian subdas hulunya pada 2010 ke bawah masih 18 ribu hektare, sekarang tinggal 9 ribu (hektere, Red) jadi hilang setengahnya," ungkapnya.
Atas kondisi tersebut akan dilakukan pengawasan lingkungan. Hal ini dilakukan agar banjir serupa tidak kembali terjadi Bantul. "Nanti ada beberapa rumusan dari hasil pengawasan lingkungan yang akan kami tindaklanjuti," ujar Hanif.
Menurutnya, tindak lanjut pengawasan tersebut menjadi penting untuk menentukan langkah-langkah dan kebijakan yang tepat. Baik dilakukan oleh kementerian, gubernur, maupun bupati setempat. "Agar bisa memberikan arahan-arahan lingkungan mengembalikan fungsi hidrologisnya di Bantul ini," ungkapnya.
Sementara itu, Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menambahkan, banjir Imogiri harus dilihat dari berbagai sisi. Dia pun menyadari, ada perubahan lanskap berupa alih fungsi tutupan vegetasi. "Itu terbukti mengakibatkan terjadi banjir," ucapnya.
Bantul yang menjadi hilir sungai di DIY, lanjutnya, harus dilihat secara regional. Artinya, perubahan lanskap di Sleman dan Kota Jogja juga tidak bisa dipisahkan dari banjir Bantul.
Terlebih, adanya perubahan tersebut dikarenakan masifnya pembangunan perumahan dan pertambangan. "Pengawas lingkungan agar (memastikan, Red) lanskap lebih terjaga dan mapan," harapnya. (rul/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita