BANTUL - Aksi demo warga Plumutan, Mulyodadi, Bambanglipuro, Bantul terhadap peternak babi di wilayahnya, Selasa (15/4/2025) lalu tidak selesai dengan menyampaikan aspirasi.
Pasalnya, warga pendemo melakukan blokade jalan terhadap akses ke luar-masuk rumah peternak babi Yohanes Nindarto.
Tak ayal mobilitas keluarga Yohanes Nindarto terbatas dan upaya pengurangan populasi jumlah babi dengan cara menjualnya terhambat.
"Pasalnya pembeli saya takut untuk datang ke rumah," ujar pria yang biasa disapa Nindarto ini, Jumat (18/4/2025).
Warga memblokade berbagai pintu masuk rumah Nindarto yang terdapat peternakan babinya.
Kayu-kayu besar, sampah-sampah, hingga pohon pisang pun dijadikan alat untuk melakukan blokade terhadap akses ke luar-masuk rumah.
Blokade tersebut terjadi sejak Selasa (15/4/2025) lalu dan berlangsung hingga sekarang, Jumat (18/4/2025).
"Kami sekeluarga tidak bisa ke mana-mana dan ketakutan sampai sekarang," sambungnya. Pasalnya, anak Nindarto tidak bisa berangkat sekolah.
Sedangkan istrinya tidak dapat melakukan aktivitas jualan seperti biasanya.
Bahkan, saudara dari keluarga besarnya tidak berani menjenguk untuk datang ke rumah Nindarto.
Rumahnya tidak hanya diblokade melainkan juga turut dijaga warga tiap malam seakan-akan tempat teroris menetap.
"Kami sekeluarga merasa drop dan orang yang mamu membeli babi kami takut semua," tutur pria berusia 52 tahun ini.
Padahal, penjualan babi yang dilakukannya sekarang merupakan upayanya untuk pengosongan babi di peternakannya.
Meskipun memang, Nindarto tidak menampik Kamis (17/4/2025) kemarin ada satu pembeli yang berani datang untuk menebus babi.
Bahkan babi yang kecil-kecil masih nyusu terpaksa dijualnya.
Diakuinya kondisi tersebut jelas kerugian besar bagi bisnisnya.
"Tetapi kami lakukan karena menaati arahan Bapak Bupati Bantul dan ini komitmen kami," tegasnya.
Kini di peternakannya hanya menyisakan tujuh ekor babi yang belum bisa dijualnya.
Sebab karena tidak ada pembeli yang berani membayarnya lantaran kondisinya hamil.
Ketika sudah tidak hamil baru konsumen berani membelinya dan kondisi tersebut sudah dikoordinasikan Nindarto kepada Panewu Bambanglipuro Tri Manora dan Kepala Satpol PP Bantul Jati Bayu Broto.
Sementara itu, famili pemilik peternakan babi, Irwan Ghosong menjelaskan, saudaranya tersebut sudah menjadi peternak puluhan tahun.
Memang sebagai peternak babi baru sejak 2021.
Namun, sebelumnya sudah menjadi peternak ayam selama bertahun-tahun yang notabene baunya lebih menyengat daripada babi.
Selalu diupayakan agar baunya tidak meluas dan ketika masih menjadi peternak ayam semua berjalan baik-baik saja.
Baca Juga: Astra Motor Yogyakarta Perkuat Komitmen Sosial Lewat Program Berkelanjutan
"Namun baru saat saudara saya beternak babi yang memiliki izin warga berdemo tanpa memberikan solusi," ungkapnya.
Di situasi ekonomi yang tidak menentu seperti sekarang ini tentunya dengan begitu saja melepaskan usaha ini akan menjadi kesulitan ekonomi yang dialami Nindarto dan keluarganya. (rul)
Editor : Meitika Candra Lantiva