BANTUL - Kabupaten Bantul sampai saat ini masih belum memiliki gedung bioskop. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bantul menilai, pelaku investasi tidak melihat pasar tersebut di Bumi Projotamansari.
"Bantul itu kan daya tariknya lebih ke industri pengolahan atau manufaktur," ungkap Penasihat Apindo Bantul Timothy Apriyanto Senin (14/4).
Jika melihat bioskop di Gunungkidul, lanjutnya, karena peluang yang menjanjikan. Sebab kebiasaan balik kampung untuk perantau di Bumi Handayani, dapat membangun kekuatan ekonomi baru lewat keberadaan bioskop.
Meski demikian, Bantul tetap memiliki peluang. Terlebih dengan keberadaan ISI Jogja yang dapat dimanfaatkan untuk industri kreatif perfilman. Menurutnya, Bantul membutuhkan road map investasi yang lebih jelas. Khususnya soal industri kreatif.
"Bioskop di Bantul belum menarik minat investor karena daya beli masyarakat rendah dan belum menarik hitungan bisnisnya," bebernya.
Hal ini tidak bisa dipisahkan dari pemerataan dalam pertumbuhan ekonomi yang belum maksimal. Apalagi, angka kemiskinan di Bantul masih menjadi pekerjaan rumah. "Pengadaan tanah juga masih mahal," tuturnya.
Timothy menilai, Bantul bukan berarti kalah dengan Gunungkidul. Sebab bioskop hanya salah satu item dari sekian banyak jenis dalam perkembangan investasi.
Dia pun berharap, Pemkab Bantul bisa mengadakan pameran investasi. Sehingga banyak investor datang dan mengetahui secara langsung. "Bantul harus lebih proaktif lagi terkait penawaran ke investor, pasalnya Gunungkidul itu proaktif," ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Bantul Annihayah pun membenarkan, belum ada investasi masuk terkait pendirian bioskop. "Belum ada tanda-tanda investasi bioskop," ucapnya. (rul/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita