Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dinkes Bantul Ungkap Judol Bikin Stres Masyarakat hingga Putuskan untuk Bunuh Diri

Khairul Ma'arif • Rabu, 9 April 2025 | 03:55 WIB

 

Ilustrasi bunuh diri.
Ilustrasi bunuh diri.
 

BANTUL - Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul melakukan pendataan terkait penyebab stres masyarakat. Diketahui, judi online (judol) menjadi penyebab utama. Kegiatan tersebut bisa menimbulkan depresi berat. Terlebih saat seseorang tidak bisa memenuhi keinginan untuk bisa melakukan judol.

Kepala Seksi Gizi, Kesehatan Keluarga dan Kesehatan Jiwa Dinkes Bantul Siti Marlina mengungkapkan, depresi berat karena judol sangat banyak menjadi kasus bunuh diri di Bantul. Menurutnya, depresi karena judol lantaran berimbas terhadap pinjaman online (pinjol). "Karena mayoritas yang main judol kalangan ekonomi menengah ke bawah yang istilahnya tidak memiliki pekerjaan tetap," katanya Selasa (8/4).

Judol yang berdampak pada pinjol membuat seseorang depresi berat karena kesulitan untuk membayar utang. Di saat bersamaan, rasa ketagihan bermain judol sulit dihentikan. Ketika sudah depresi berat, seseorang itu akan mudah halusinasi karena mendengar suara-suara untuk bunuh diri.

"Media massa yang menceritakan cara bunuh diri secara detail pun menginspirasi untuk melakukannya," tuturnya.

 Baca Juga: Senator DPD RI Dorong Pemkab dan Pemkot di DIY Manfaatkan Teknologi untuk Efisiensi Pengelolaan Sampah

Dari pendataan yang dilakukan dinkes, ada 22 kasus bunuh diri pada 2024. Namun penyebabnya tidak hanya dari judol. Ada pula masalah keluarga dan pasangan. "Sedangkan tahun ini sudah ada sekitar empat kematian karena bunuh diri," sambungnya.

Mirisnya, temuan kasus itu terjadi pada kalangan produktif usia 20 tahun hingga 59 tahun. Kebanyakan cara bunuh diri yang dilakukannya dengan gantung diri di rumah.

Menurutnya, bunuh diri banyak terjadi pada kaum Adam. Pasalnya, perempuan lebih banyak pertimbangan ketika hendak melakukannya. "Masyarakat harus lebih aware terhadap lingkungan dan keluarganya karena banyak bunuh diri dilakukan di rumahnya sendiri," ungkapnya.

Lina membeberkan, dalam penanganan kesehatan jiwa di Bantul masih terkendala minimnya psikolog klinis. Menurutnya, belum semua puskesmas di Bantul memiliki psikolog klinis. Kondisi tersebut memaksa tenaga kesehatan yang ada, seperti bidan atau perawat diberikan pelatihan konseling. "Untuk dapat melakukan penanganan gangguan kesehatan jiwa yang dikeluhkan masyarakat," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinkes Bantul Sapta Adisuka Mulyatno menyebut, saat ini baru ada tujuh psikolog klinis. Membuat satu psikolog klinis harus menangani dua puskesmas sekaligus.

"Idealnya satu puskesmas miliki satu psikolog klinis," ucapnya.

Di Bantul sendiri, ada 27 puskesmas di 17 kapanewon. Adapaun Puskesmas yang sudah memiliki psikolog klinis antar lain Puskesmas Pleret, Sewon 1, Kretek, Pundong, Bambanglipuro, Sanden, Imogiri 1, Dlingo 2, Piyungan, Bantul 2, Jetis 1, Srandakan, dan Kasihan 1. Sapta mengaku, selama ini sudah mengajukan tambahan psikolog klinis ke BKPSDM Bantul. (rul/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#pinjol #dinkes bantul #dinkes #pinjaman online #halusinasi #judi online #judol #bunuh diri #Bantul #depresi berat #utang #Dinas Kesehatan (Dinkes) #Ekonomi