BANTUL - Tarif impor yang masuk ke Amerika Serikat (AS) naik menjadi 32 persen. Kebijakan tersebut akan berlaku pada 9 April mendatang. Tentunya, hal ini berdampak pada kegiatan ekspor di Kabupaten Bantul. Sebab AS menjadi tujuan negara kedua dengan produk kiriman terbanyak dari Bumi Projotamansari.
Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMPP) Bantul Tutik Lestariningsih mengungkapkan, AS menjadi negara kedua terbanyak dalam hal nilai ekspor Bantul tahun lalu. Capaiannya hingga 19.219.393.73 US Dollar. Di bawah Jerman yang nilai ekspornya mencapai 24 juta US Dollar.
Sedangkan secara volume ekspor Bantul, AS menjadi negara tujuan yang terbesar pada 2024. Angkanya mencapai 4,898,105.23 kilogram. Mengungguli Australia, Eropa, dan Timur Tengah. “Ke AS ekspor dari Bantul banyak bidang garmen, kerajinan dan furniture,” tuturnya Minggu (6/4).
Menurutnya, kemungkinan dampak yang terjadi bisa saja berupa penurunan nilai atau volume ekspor ke AS dari Bantul. Pelaku ekspor akan berusaha mencari peluang pasar lain karena kebijakan tarif impor 32 persen AS.
Nantinya intervensi dari DKUKMPP Bantul akan memfasilitasi peluang pasar selain AS. “Kalau dirasa terlalu memberatkan mau tidak mau mencari peluang pasar ke negara lain,” ungkap Tutik.
Pameran produk yang menghadirkan buyer dari berbagai negara akan diupayakan lebih gencar lagi. Fasilitasi semacam itu menjadi intervensi pemerintah kepada pelaku ekspor untuk mendapatkan peluang pasar baru di luar AS.
Plt Kepala DKUKMPP Bantul Fenty Yusdayati menyebut, kenaikan tarif impr akan berpengaruh. Hanya saja, dia belum mengetahui efek ke depan secara konkret. “Belum mengetahui seberapa dampaknya tetapi jelas ada pengaruhnya,” katanya.
Menyikapi hal tersebut, dinasnya masih menunggu arasan dari pemerintah pusat. “Kami masih wait and see,” sambungnya. (rul/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita