RADAR JOGJA - Angka skrining kesehatan jiwa di Kabupaten Bantul masih tergolong rendah, baru mencapai sekitar 93 ribu orang dari total populasi yang mencapai 1 juta jiwa. Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul terus berupaya untuk meningkatkan skrining jiwa guna mengetahui lebih lanjut jumlah kasus gangguan jiwa di wilayahnya.
Kepala Seksi Gizi, Kesehatan Keluarga, dan Kesehatan Jiwa Dinkes Bantul Siti Marlina mengatakan, skrining jiwa dilakukan untuk individu berusia 15 tahun hingga lanjut usia. Namun, berdasarkan skrining tersebut, tidak dapat dipastikan jumlah pasti mereka yang terdiagnosa gangguan jiwa. “Terindikasi masalah jiwa sekitar 6.517 orang atau 6,97 persen,” katanya kemarin (3/4).
Dia menyebut, minimnya jumlah diagnosa gangguan jiwa disebabkan oleh ketidakinginan masyarakat untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Di masyarakat Bantul, memeriksakan kesehatan jiwa masih dianggap tabu dan jarang dilakukan, bahkan untuk berkonsultasi dengan psikolog klinis sekalipun.
"Terindikasi bukan tidak terdiagnosa secara pasti karena tidak ada yang datang ke fasyankes," ujarnya.
Lina sapaan akrabnya itu menjelaskan, banyak orang yang menganggap gangguan jiwa sebagai masalah biasa, padahal gangguan jiwa bisa berkembang secara bertahap dan mempengaruhi kehidupan seseorang.
Dinkes Bantul telah menyediakan fasilitas google form sebagai sarana untuk skrining jiwa mandiri. Melalui aplikasi ini, masyarakat bisa melakukan skrining secara online dan hasilnya langsung terdeteksi oleh pihak dinkes. “Ini adalah upaya kami untuk memudahkan masyarakat dalam melakukan skrining jiwa,” ujarnya.
Pun skrining jiwa menjadi penting untuk dapat diintervensi penanggulangannya sehingga perlu pemeriksaan sejak dini. Diagnosa penting untuk mengetahui gangguan jiwa yang dialami ringan atau berat.
"Karena ketika tidak ditangani dengan tepat bisa menjadi penyebab bunuh diri. Individu yang sedang stres dengan kehidupannya masuk dalam kategori gangguan jiwa ringan,” jelasnya.
Selain Puskesmas, posyandu juga bisa dimanfaatkan sebagai tempat pemeriksaan jiwa, meskipun masih minim pemanfaatannya.
Dukuh Piring I Murtigading Sanden Yani menambahkan, selama ini posyandu lebih banyak difokuskan untuk bayi dan lansia. Pemeriksaan kesehatan jiwa di posyandu sangat terbatas, sehingga jarang dimanfaatkan untuk pemeriksaan kesehatan jiwa. (rul/wia)
Editor : Herpri Kartun