Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Bukber, 70 Orang di Padukuhan Mandingan Bantul Sempat Keracunan, namun Gejala Dirasakan Hari Berikutnya Berupa Sakit Perut dan Diare

Khairul Ma'arif • Jumat, 21 Maret 2025 | 03:35 WIB

Ilustrasi keracunan makanan.
Ilustrasi keracunan makanan.
 

BANTUL - Peristiwa keracunan makanan saat buka bersama (bukber) di Kabupaten Bantul tidak hanya terjadi di Padukuhan Jodog, Gilangharjo, Pandak, Bantul. Sebab sebelumnya, keracunan sempat terjadi di Padukuhan Mandingan, Ringinharjo pada Minggu (16/3).

Dukuh Mandingan Samsi Wahyudi menjelaskan, keracunan bersumber dari makanan takjilan saat bukber di Musala Al Munir. Ada sekitar 70 orang yang mengikuti kegiatan tersebut. Namun, efek yang dirasakan sehari setelahnya. Yakni pada Senin (17/3) saat hendak sahur.

“Efeknya sakit perut sama diare pas sahur hingga Senin pagi,” ujar Wahyudi Kamis (20/3).

Seluruhnya, hanya melakukan perawatan jalan dari puskesmas. Hingga saat ini, keadaan warga yang mengalami keracunan sudah membaik. “Warga laporan sama saya ditindaklanjuti ke Puskesmas memang keracunan bakteri di makanan,” ungkapnya.

Terkait sumber makanan, menu bukber dibuat mandiri oleh ibu-ibu secara berkelompok. “Menunya nasi ayam ungkep, galantin pedas sama capcai,” tuturnya.

Samsi mengatakan, di musala tersebut bukan pertama kalai masakan ibu-ibu disajikan sebagai menu bukber. Namun memang, menu yang disajikan dan tempat memasaknya berbeda-beda. “Kecurigaannya di olahan ayamnya, bahan ayamnya. Jadi ayamnya itu bau dan tidak sedap,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Bantul Agus Tri Widiyantara menambahkan, kewaspadaan pada keracunan makanan saat Ramadan sudah dilakukan dengan bersurat ke Kantor Kemenag Bantul. Agar imbauan tersebut disampaikan dan diteruskan ke takmir masjid untuk lebih waspada.

Menurutnya, surat tersebut pun meminta agar menyimpan makanan yang digunakan saat bukber di masjid. Hal tersebut sebagai upaya agar dapat memiliki sampel makanan untuk dilakukan pengecekan. “Karena keracunan yang terjadi kadang selang beberapa hari, sehingga kami kesulitan mendapatkan sampel makanan untuk pengecekan,” bebernya.

Sedangkan untuk penanganan keracunan dari katering, akan dilakukan pembinaan. Pun akan dilakukan pengecekan terhadap produsen jasa boga.

 

 

Hal ini karena penyebab keracunan bisa berasal dari bahan pangan yang tercemar. “Pengolahan yang berjarak dari pendistribusian dan tempat yang kurang bersih juga dapat jadi pemicu,” bebernya. (rul/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#kabupaten bantul #Efek #Takjilan #sakit perut #keracunan #BUKBER #diare #buka bersama #Dinas Kesehatan Bantul #Gilangharjo #ringinharjo #Padukuhan Mandingan #Pandak