JOGJA - Di Bantul tersembunyi sebulan dusun yang kaya akan tradisi dan seni budaya. Dusun tersebut bernama Cabeyan, yang terletak di Kalurahan Panggungharjo, Kapanewon Sewon, Bantul. Dusun tersebut telah lama dikenal sebagai sentra kerajinan wayang kulit, khususnya seni sungging atau pewarnaan pada wayang kulit.
Salah satu perajin seni sungging wayang Dusun Cabeyan Irfandi Cahyanto menjelaskan, proses sungging wayang yang dilakukan oleh warga Dusun Cabeyan itu telah berlangsung secara turun-temurun. Keterampilan menyungging wayang kulit itu sudah diwariskan sejak nenek moyangnya dari zaman dahulu. "Kalau saya sendiri satu keluarga udah membuat wayang ilmunya dari nenek moyang terdahulu. Sekarang sekeluarga membuat wayang," jelasnya kepada Radar Jogja, Jumat (14/3).
Baca Juga: Upaya Meliterasikan Disabilitas kepada Anak-Anak Pesisir Bantul lewat Wayang Limbah Difabel
Menurut Irfandi, dulu sebelum 2000-an mayoritas warga Cabeyan ini berprofesi sebagai penyungging wayang kulit. Akan tetapi saat ini para pengrajin tersebut sudah berkurang, terhitung saat ini yang terdata tinggal 40 orang saja yang masih berprofesi sebagai perajin seni sungging wayang di Dusun Cabeyan tersebut.
Selain itu, sekarang para perajin di Dusun Cabeyan itu melakukan proses produksi di rumah masing-masing. Akan tetapi, dulu sebelum 2004 memang ada koperasi yang mengurus para penyungging wayang kulit Dusun Cabeyan tersebut. "Mayoritas usia 40 ke atas, yang anak muda ada tapi satu dua orang saja," lontar pemilik usaha Jumadi Wayang yang terletak di Dusun Cabeyan, RT 01 itu.
Baca Juga: Legendaris Sejak 1970, Gule Tongseng Mbah Wargo di Pasar Turi Bantul: Nasi Sepuasnya Cuma 13 Ribu di Hari Pasaran Pahing
Irfandi juga mengungkapkan, sebenarnya dulu orang-orang Cabeyan ini belajar proses penyunggingan wayang kulit itu di daerah Bangunjiwo bersama dengan orang-orang Pucung, Imogiri. Akan tetapi dulu katanya orang Cabeyan sukanya sebagai buruh sungging wayang saja yang hanya mengecat atau mewarnai produk dari Bangunjiwo. Sedangkan orang Pucung berani berwirausaha untuk menciptakan wayang sendiri.
Sehingga hingga saat ini tradisi sungging wayang itu terus dilestarikan oleh sebagian warga Dusun Cabeyan. "Biasanya pengrajin atau penatah wayang Pucung itu lari ke Cabeyan untuk menyungging wayang itu. Karena di sini masih menggunakan yang penyunggingan yang masih pakem," ungkapnya.
Baca Juga: Turis Kazakstan Terseret Arus di Pantai Parangtritis Yogyakarta Beri Tanda Pertolongan, Begini Kronologi Kejadian!
Meski saat ini banyak banyak yang menyukai produk dari warga Dusun Cabeyan, karena muncul anak-anak muda baru yang menyukai wayang semenjak booming-nya almarhum Ki Seno Nugroho dulu. Akan tetapi Irfandi sendiri malah merasa khawatir dengan regenerasi sungging wayang yang ada di Dusunnya tersebut.
Sebab menurutnya regenerasi perajin sungging wayang saat ini terbilang masih sangat kurang. Ada ketakutan dari para perajin wayang itu jika ke depan seni wayang kulit itu akan mulai punah, karena kurangnya regenerasi tersebut. "Apalagi di bidang penatahan sama penyunggingan. Itu sekarang sudah tidak ada regenerasinya," tegasnya.
Selain berkecimpung di seni sungging wayang kulit, Irfandi juga mengungkapkan, sebenarnya ada sebagai warga Dusun Cabeyan ini yang membuat suvenir wayang berukuran 30 cm untuk para wisatawan.
Sebab untuk produksi wayang kulit besar itu para pengrajin harus menunggu adanya pesanan dari dalang. Kalau tidak ada pesanan mereka kesehariannya hanya membuat suvenir buat turis yang berkunjung ke Jogjakarta. "Produksi tidak pasti untuk wayang kulit. Kalau suvenir wayang 30 cm satu hari bisa produksi 10 sampi 15 wayang," tandasnya. (ayu/pra)