Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Cerita Warga Banyakan Terdampak Asap Tebal yang Berasal dari Cerobong Sampah: 'Kami Berhak Menghirup Udara Bersih'

Khairul Ma'arif • Sabtu, 15 Maret 2025 | 04:45 WIB

 

PENCEMARAN: Sejumlah titik kepulan asap cerobong yang sedang beroperasi di kawasan perbatasan antara Kalurahan Sitimulyo dan Bawuran. Warga mengeluhkan dan meminta pemerintah.
PENCEMARAN: Sejumlah titik kepulan asap cerobong yang sedang beroperasi di kawasan perbatasan antara Kalurahan Sitimulyo dan Bawuran. Warga mengeluhkan dan meminta pemerintah.

BANTUL - Kepulan asap tebal terlihat membumbung di udara sekitar kawasan ITF Bawuran dan TPA Piyungan.

Asap ini berasal dari banyak rumah di perbatasan Kapanewon Piyungan dan Pleret, di mana warga memiliki cerobong asap yang digunakan untuk membakar sampah, terutama plastik, karena sebagian besar warga di daerah tersebut bekerja sebagai pengepul rongsokan.

ITF Bawuran terletak di Padukuhan Sentulrejo, Bawuran, Pleret, sementara TPA Piyungan berada di Padukuhan Ngablak, Sitimulyo.

Kepulan asap dari cerobong milik warga ini dapat tercium dan terlihat hingga jarak dua kilometer.

Seorang warga Banyakan III, Sitimulyo, Nanda Puspita menceritakan pengalamannya terkait asap tersebut.

Jarak rumahnya dengan lokasi warga yang memiliki cerobong asap tidak lebih dari satu kilometer. Menurutnya, sejak penutupan TPA Piyungan, banyak warga yang beralih menjadi pengepul sampah dan memasang cerobong asap di rumah mereka.

“Kadang ada warga yang punya dua hingga tiga cerobong asap,” katanya, Jumat (14/3/2025).

Masalah asap tidak hanya terjadi di sekitar ITF Bawuran, tetapi juga hingga ruas jalan kalurahan. Sebagai warga setempat, ia sering kali mendapati kepulan asap setiap hari, meskipun hanya pada jam-jam tertentu.

“Kadang-kadang, asap dari pembakaran sampah bisa sangat tinggi dan menyebar ke udara. Saya kalau lagi melintas ke arah Bawuran pasti terlihat jelas kepulan asapnya,” lanjutnya.

Dia menilai, asap pembakaran sampah dapat berdampak buruk, baik terhadap polusi udara maupun kebersihan lingkungan.

“Sebagai warga sekitar, kami berhak untuk menghirup udara bersih, bukan udara yang tercemar pembakaran sampah,” tambahnya.

Walaupun rumahnya tidak langsung terpapar asap yang mengganggu pernapasan, ia merasakan dampaknya ketika melintas ke Padukuhan Ngablak atau menuju Kalurahan Bawuran. Dia meminta pemerintah dapat menindaklanjuti kejadian ini.

Sementara Dukuh Sentulrejo Giyanto tidak menampik warganya banyak yang menjadi pengepul sampah. Bahkan hingga sekarang ada sekitar 15 warganya yang menjadi pengepul sampah imbas ditutupnya TPA Piyungan.

“Awalnya sejumlah warga protes karena ada asap dari cerobong pembakar sampah tetapi kini sudah tidak karena ikutan menjadi pengepul sampah,” bebernya.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan DLH Bantul Rudy Suharta menambahkan, ada sekitar 40 titik pembakaran sampah cerobong asap di Sitimulyo dan Bawuran.

Dia menyebut, meski keberadaannya tidak berizin, dia pun tidak bisa melakukan penindakan.

Ketika berizin harus memiliki dokumen upaya pengelolaan lingkungan hidup (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan hidup (UPL) yang sudah diuji, serta alat yang telah mendapat rekomendasi dari Kementerian Lingkungan Hidup.

“40 titik itu sudah terdeteksi sudah ada data titiknya dan sampahnya dari mana kami punya,” bebernya.

Pembakaran sampah ini biasanya terjadi setelah penutupan TPA Piyungan. Sebelumnya, edukasi sudah diberikan kepada pemilik cerobong mengenai aturan yang berlaku.

Pembakaran sampah hanya diperbolehkan jika memiliki izin, dengan suhu pembakaran mencapai 700 derajat celsius, dan menggunakan alat yang telah mendapat rekomendasi resmi.

Pun meski sudah disepakati agar berhenti pada 31 Desember namun ada yang tetap beroperasi. "Kalau penindakan bukan di bidang saya tapi pengawasan," tandasnya.

Asap tersebut seluruhnya bersumber dari cerobong bukan dari ITF Bawuran. Dari pantauan di lokasi ITF Bawuran sendiri nampak belum mengolah sampah. (rul/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#ancam kualitas udara #cerobong pembakaran #kepulan asap #TPA Piyungan #Warga Banyakan #pengepul rongsokan #ITF Bawuran