Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jembatan Srandakan Lama Putus, Begini Kondisi Sebelum dan Sesudah Ambrol, Simak Juga Sejarahnya!

Meitika Candra Lantiva • Jumat, 7 Februari 2025 | 19:29 WIB
Pemandangan Jembatan Srandakan Lama  (utara) dan Jembatan Srandakan  2 (baru).
Pemandangan Jembatan Srandakan Lama (utara) dan Jembatan Srandakan 2 (baru).

 

RADAR JOGJA - Jembatan Srandakan lama yang menghubungkan Kabupaten Bantul dan Kabupaten Kulon Progo akhirnya ambrol, Kamis (6/2/2025) malam.

Jembatan yang melintasi Sugai Progo Yogyakarta tersebut sudah lama rusak dan tak digunakan seiring dibangunnya Jembatan Srandakan yang baru.

Sejarah Jembatan Srandakan Lama

Jembatan Srandakan lama ini telah berumur seabad. 

Menurut informasi masyarakat sekitar, jembatan ini dibangun sejak 1929. Kemudian mulai beroperasi empat tahun setelahnya, atau sekitar tahun 1933.

Pada awalnya, jembatan ini dibangun pada masa Pemerintahan Belanda dan menjadi jalur kereta api lori untuk mengangkut tebu, yang menghubungkan Pabrik Gula Sewugalur di Desa Galur, Kecamatan Brosot, Kulon Progo dengan Stasiun Palbapang, Kabupaten Bantul.

Jembatan jalur kereta tersebut memiliki panjang 531 meter dan terdiri dari 59 bentang dengan panjang masing-masing 9 meter.

Seiring berjalannya waktu, pada 1951 jalur kereta tersebut berubah menjadi jembatan yang bisa diakses transportasi umum.

Meski beberapa kali mengalami renovasi, namun tak mempengaruhi perubahan pilar dan konstruksi jembatan secara signifikan.

Kondisi sesudah dan sebelum Jembatan Srandakan lama ambrol karena tergerus derasan aliran Sungai Progo dampak jebolnya DAM Srandakan beberapa waktu lalu.
Kondisi sesudah dan sebelum Jembatan Srandakan lama ambrol karena tergerus derasan aliran Sungai Progo dampak jebolnya DAM Srandakan beberapa waktu lalu.

 

Kondisi Jembatan Srandakan Lama Sebelum Ambrol

Badan jembatan meliuk. Struktur kaki-kaki jembatannya pun mulai rapuh.

Konstruksinya perlahan terkikis, seiring derasnya aliran Sungai Progo.

Ditambah dampak kerusakan lingkungan akibat maraknya penambangan pasir ilegal di sungai tersebut.

Semenjak Jembatan Srandakan lama tidak digunakan, banyak yang memanfaatkan jembatan tersebut untuk menjemur padi, enceng gondok dan hasil panenan lainnya.

Saat akhir pekan ada pula yang memanfaatkan sebagai trek jogging, gowes, maupun senam.

Kondisi Jembatan Srandakan Lama Pasca DAM Srandakan Jebol

Sebelumnya, Jembatan Srandakan lama ini menjadi area tontonan warga pasca jebolnya Dam Srandakan, Minggu (26/1/2025).

Jembatan Srandakan lama semakin menjadi parah terdampak arus sungai pasca bendungan Dam Srandakan jebol.

Dari pantauan Radar Jogja, kaki-kaki jembatan mulai runtuh perlahan tak kuasa menahan derasnya aliran sungai yang bermuara ke pantai selatan itu.

Bahkan bagian dasar kaki tampak menyisakan kerangka besi tua, hingga membuat badan jembatan perlahan semakin melengkung. 

Atas kondisi itu, petugas kepolisian setempat menutup jembatan tersebut demi keamanan.

Penutupan dilakukan pada Selasa (28/1/2025), dengan memasang larangan melintas di Jembatan Srandakan lama, karena masuk zona bahaya.

Kini Jembatan Srandakan lama ambrol pada Kamis (6/2/2025) sekitar pukul 22.40 WIB ditandai dengan suara gemuruh yang terdengar oleh warga sekitar.

 

 
Editor : Meitika Candra Lantiva
#kabupaten bantul #Jembatan Srandakan Lama #srandakan #Jembatan Srandakan Lama Ambrol #Belanda #Sejarah Jembatan Srandakan Lama #Kondisi Sebelum dan Sesudah Jembatan Srandakan Lama Ambrol #masa pemerintahan Belanda