BANTUL – Makan bergizi gratis (MBG) dengan menambahkan menu kearifan lokal seperti serangga menuai pro kontra di kalangan masyarakat.
Wacana yang dilontarkan Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana itu dinilai kurang pas jika memang diterapkan. Apalagi jika dipukul rata pelaksanaannya untuk siswa sekolah.
"Terus terang saya kurang setuju, jika wacana tersebut benar-benar diterapkan," ungkap Amenah, 33, warga domisili Bantul.
Sebab tidak semua anak familiar dengan menu serangga. Di lain sisi, tidak semua anak bisa mengkonsumsi serangga meskipun kaya protein.
"Serangga itu kan makanan ekstrem. Hanya orang-orang tertentu yang doyan, kasian lah kalau yang nggak doyan terus harus tetap makan, yang ada nanti mubazir," urainya.
Kemudian dia juga menilai dari kesehatan, justru karena tinggi protein, dapat berdampak buruk bagi mereka yang memiliki alergi.
"Nah, ini juga harus menjadi perhatian penting, bagi pemerintah. Tidak asal waton," kritiknya.
Perempuan yang akrab disapa Ame pun juga mengkritisi dari segi ekonomi belalng dinilai lebih mahal jika dibandingkan dengan daging ayam.
"Di Gunungkidul, DIY, harga per kilogramnya bisa sampai Rp 100 ribu. Lebih mahal dari daging ayam," ungkapnya.
"Wacana serangga menjadi menu MBG perlu dikaji ulang," tegasnya.
Dari pemetaan yang dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul memang meskipun Dlingo dan Piyungan berbatasan langsung dengan Gunungkidul warganya masih begitu asing makan belalang.
“Menurut saya tidak familiar makan belalang, kalau dijadikan menu utama (MBG, red) penerimaannya akan kurang baik,” ujar Kepala Seksi Gizi, Kesehatan Keluarga, dan Kesehatan Jiwa Dinkes Bantul Siti Marlina, Selasa (28/1/2025).
Menurutnya, harus ada pengenalan terlebih dahulu kepada anak-anak yang menerima MBG ketika belalang goreng dijadikan sebagai lauk utamanya.
Namun, tentunya itu membutuhkan waktu dan anggaran juga sedangkan ketika langsung disodorin menu belalang goreng belum tentu dimakan anak-anak.
Pasalnya, perbedaan kebiasaan dan budaya anak-anak di Bantul menjadikan belalang goreng tidak familiar.
“Toh lebih murah telur karena belalang ketika dibeli di Bantul lebih mahal,” sambungnya.
Apalagi akses terhadap telur di Bantul tidak sulit dan mudah ditemukan ditambah penolakan anak-anak sangat minim.
Perempuan yang pernah menjabat Kepala Puskesmas Bantul ini membenarkan memang ada kandungan protein yang lebih tinggi di belalang goreng dibanding telur.
Namun, itu bukan dalam porsi satu ekor belalang goreng yang dimakan.
Melainkan 100 gram belalang goreng proteinnya lebih tinggi dibanding satu butir telur.
Menurutnya, 100 gram belalang goreng itu lebih dari tiga ekor.
“Kalau makan belalang dua atau tiga biji tidak ada gunanya menurut saya,” tanyanya.
Baca Juga: Mudah Dibuat! Resep Fuyunghai Sayuran yang Menggugah Selera, Cocok untuk Jadi Hidangan Imlek!
Menurutnya, Food Agriculture Organization (FAO) organisasi bidang pangan dan pertanian dunia memang merekomendasikan sejak 2013 memakan belalang.
Namun, memang beberapa negara lain sudah terbiasa tetapi memang di Indonesia tidak begitu familiar.
Belalang goreng selain mengandung protein juga ada kandungan vitamin B, zinc, magnesium, omega enam dan memiliki kalori.
“Pengolahan yang benar dan higienis serta takaran konsumsinya pas, gizinya bagus untuk memenuhi kebutuhan,” ucap perempuan yang biasa disapa Lina ini.
Sementara itu Pelaksana tugas Panewu Dlingo Marjihidayat menambahkan, dalam empat bulan terakhir ini warganya banyak yang mencari belalang. Baik untuk konsumsi sendiri atau dijual lagi.
Kendati begitu, jumlahnya tidak begitu dominan dan sehingga memang mayoritas warganya tidak begitu familiar makan belalang.
Kebanyakan yang masih mengkonsumsi belalang di Dlingo kalangan orang tua.
“Anak-anak ada yang mau, tapi ada juga yang tidak,” ucapnya.
Lagi pula, di Dlingo juga tidak sulit mencari telur ataupun ikan sebagai lauk MBG nantinya.
Tidak harus terus proteinnya dari belalang saja meskipun memang memiliki kandungan yang cukup. (rul)