BANTUL – Wacana penggunaan serangga sebagai sumber protein dalam menu makan bergizi gratis (MBG) masih menimbulkan pro dan kontra. Termasuk di Kabupaten Bantul. Meskipun berbatasan langsung dengan Gunungkidul yang familiar dengan konsumsi belalang, hal ini tidak berlaku bagi masyarakat Bumi Projotamansari.
“Menurut saya tidak familiar makan belalang, kalau dijadikan menu utama (MBG, Red) penerimaannya akan kurang baik,” sebut Kepala Seksi Gizi, Kesehatan Keluarga, dan Kesehatan Jiwa Dinkes Bantul Siti Marlina Selasa (28/1/2025).
Meskipun memiliki protein yang tinggi, lebih mudah mendapatkan protein dari menu lain. Seperti ikan dan telur. Namun, kandungan tersebut bukan dalam porsi satu ekor belalang goreng yang dimakan. Melainkan dalam 100 gram atau lebih dari tiga ekor belalang. Kandungan proteinnya akan mengungguli protein telur. “Kalau makan belalang dua atau tiga biji tidak ada gunanya menurut saya,” lontarnya.
Apalagi, bahan pangan tersebut sangat mudah ditemukan. Selain itu, penolakan dari anak-anak minim terjadi karena sudah mengenal lauk tersebut. “Toh lebih murah telur karena belalang ketika dibeli di Bantul lebih mahal,” sambungnya.
Dia menyebut, Food Agriculture Organization (FAO) memang merekomendasikan konsumsi belalang sejak 2013. Sebab selain mengandung protein, belalang juga memiliki kandungan kalori, vitamin B, zinc, magnesium, omega 6.
“Pengolahan yang benar dan higienis serta takaran konsumsinya pas, gizinya bagus untuk memenuhi kebutuhan,” ucap Lina.
Sementara itu, Plt Panewu Dlingo Marjihidayat mengaku, empat bulan terakhir, warganya rutin mencari belalang. Namun untuk dijual. Jika ada yang konsumsi, itu pun dari kalangan orang tua. “Anak-anak ada yang mau, tapi ada juga yang tidak,” ucapnya.
Menurutnya, belalang bukan menjadi menu lauk sebagai pendamping nasi. Terlebih di Dlingo, sangat mudah untuk mendapatkan telur dan ikan sebagai lauk. (rul/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita