BANTUL - Kondisi penyakit mulut dan kuku (PMK) terhadap hewan ternak sapi di Kabupaten Bantul masih fluktuatif. Oleh karena itu, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul belum memutuskan status kejadian luar biasa (KLB) atau penutupan pasar hewan.
Kepala DKPP Bantul Joko Waluyo menuturkan, angka kematian sapi per 12 Januari tidak ada penambahan. Hanya saja, memang ada penambahan kasus PMK. Tetapi dibarengi dengan adanya angka kesembuhan. "Makanya saya belum berani mengadakan KLB," tegasnya Minggu (12/1/2025).
Dia berharap, kondisi PMK di Bumi Projotamansari bisa terus menurun dan terkendali. "Jadi tidak ada penutupan pasar hewan," sambungnya.
Diketahui, PMK di Bantul mulai kembali naik sejak awal Desember 2024. Lantas, peningkatannya begitu signifikan pada pertengahan hingga akhir Desember.
Baca Juga: Cap Jempol Darah, Banteng Jogja Ikrar Setia Ketua Umum PDI Perjuangan Ibu Megawati Soekarnoputri
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Novriyeni mengungkapkan, tidak ada penambahan sapi yang mengalami PMK untuk Minggu (12/1/2025). Sedangkan sejak 1 Desember 2024 hingga 12 Januari 2025, sudah ada 322 sapi sakit PMK. Dua ekor di antaranya harus dipotong paksa.
Kini, sudah ada 32 sapi yang mati karena PMK dan dua dinyakatan sembuh. "PMK terhadap sapi dilaporkan di 15 kapanewon dan 35 kalurahan," tuturnya.
Baca Juga: Pengkab PASI Sleman Incar Juara Umum di Porda XVII- 2025 dan Popda 2025, Ini Yang Dijagokan
Kapanewon Kretek, lanjutnya, menjadi yang terbanyak dengan total 111 PMK. Di wilayah ini, sembilan sapi mati. Kemudian kasus kematian terbanyak ada di Bambanglipuro yang mencapai 19 ekor. Sedangkan jumlah kasus PMK di wilayah ini mencapai 44 ekor.
Novriyeni menegaskan, kondisi PMK tidak dibiarkan begitu saja. "Sampai hari ini total ada 274 ekor sapi yang diberikan vaksin," ungkapnya. (rul/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita