BANTUL - Pemandangan berbeda terlihat di halaman Kantor Urusan Agama (KUA) Sewon, Bantul, kemarin (2/1/2025). Ada 12 pasangan yang melangsungkan pernikahan secara gratis. Yang langka, saksinya seorang menteri.
Mobil bak terbuka terparkir tepat di halaman Kantor KUA Sewon. Bukan untuk mengangkuti barang pindahan KUA Sewon. Melainkan menjadi tempat mengucapkan janji sehidup setia masing-masing pasangan pengantin.
Di atas bak terbuka itu disediakan tiga kursi. Terdiri atas dua untuk pasangan pengantin dan satu untuk penghulunya. Sedangkan saksi pernikahan, dua bangkunya disediakan di bawah mobil, tepatnya di sisi timur mempelai.
Ketika kata sah diucapkan saksi, suasana haru tak terhindarkan dari pasangan pengantin. Air mata bahagia menetes berlinang di pipi. Sejumlah keluarga dan tamu yang datang menyalami pasca-ijab kabul selesai.
Mobil itu pun menjadi saksi 12 pasangan pengantin yang akhirnya menjadi sah sebagai suami-istri. Secara massal dan gratis, semuanya dinikahkan yang diakui oleh negara.
Terasa istimewanya lagi, ada dua pasangan pengantin yang saksi nikahnya Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) Wihaji. "Saksinya Pak Menteri, perasaan saya sangat spesial sekali dan bahagia," ujar Ari Priyadi.
Dia menikahi gadis pujaan yang dikenalnya dari Fortais lewat program golek garwo atau cari pasangan. Pasangan dari Bantul ini intens berhubungan melalui media sosial pasca-saling kenal.
Ari yang warga Bambanglipuro menikahi Wahyuning dari Pundong. Diakui, keberadaan nikah massal gratis ini sangat membantunya. Pasalnya, seluruh pembiayaan ditanggung, sehingga hanya mengurus proses administrasi pernikahannya saja.
"Tinggal datang bawa badan, bersyukur sekali langsung sah," ungkapnya. Pasangan suami-istri (pasutri) ini sama-sama berusia 43 tahun. Proses perkenalannya hanya berlangsung sekitar lima bulan saja.
Ada juga pasangan lain, Adit Dwi Setiawan dan Nurhayati. Pasutri yang masing-masing berusia 24 tahun ini dulu satu sekolah, SMK Tamansiswa Nanggulan, Kulon Progo. Namun semasa sekolah tidak saling bertegur sapa, bahkan tidak saling kenal juga.
"Kenalan di medsos baru saling nebak, kamu sekolah ini ya," ujar Adit. Selama satu sekolah yang sama tidak pernah menyangka akan berjodoh. Malah kenalannya seusai lulus sekolah.
Dia mengaku sangat terbantu ada nikah massal gratis ini. Sempat memikirkan pernikahan yang hendak dilangsungkan. Tetapi kehadiran nikah massal ini membuatnya tanpa pikir panjang mempersunting Nurhayati.
Sementara itu, Mendukbangga Wihaji mengungkapkan, kehadirannya untuk memastikan syarat para pengantin sudah memenuhi. Dia pun berpesan kepada para pengantin harus memastikan ketika hamil dalam keadaan sehat dan asupan gizinya cukup.
Diingatkan juga agar jarak antarkehamilan harus tepat, agar keluarga berencana betul-betul diwujudkan. "Tanggung jawab yang lebih penting pascanikah atau akad," tegasnya.
Menurutnya, kalau itu tidak diseriusi akan menjadi masalah baru. Seribu hari pertama pascakelahiran bayi, harus dalam perhatian serius agar terhindar dari stunting. (rul/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita