BANTUL - Sumini warga Padukuhan Rejosari, Terong, Dlingo, Bantul tidak bisa berbuat banyak untuk kedua anaknya. Ahmad, 16, dan Reza, 13, kini hanya bisa terbaring lemas di kasur rumahnya. Keduanya didiagnosa menderita penyakit hidrosefalus usai beberapa hari dilahirkan.
Keterbatasan biaya ibu lima anak itu menjadikannya tidak mampu memberikan pengobatan terbaik. Apalagi perempuan 45 tahun tersebut sudah sejak Februari 2016 membiayai anak-anaknya sendirian. "Suami saya sudah meninggal," ujarnya Kamis (2/1/2025).
Hal ini membuat Sumini tidak mampu secara rutin memberikan layanan pengobatan ke rumah sakit bagi anaknya. Kondisi tersebut diperparah dengan Puskesmas Dlingo II yang tidak memiliki fisioterapis. "Sudah lama belum terapi karena di sini juga belum ada (fisioterapis, Red) dan tidak bisa ter-cover BPJS," bebernya.
Sementara itu, Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menyebut, rekrutmen baru tenaga fisioterapis di Puskesmas Dlingo II harus dilakukan oleh dinas kesehatan.
"Ini bagian layanan dasar yang harus dimiliki puskesmas," tuturnya.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Wihaji yanng turut datang mengaku, kedatangannya sebagai wujud negara hadir untuk mengatasi persoalan yang dihadapi Sumini. "Ini tidak bisa ditangani sendiri, perlu ada kerja sama pentahelix," ungkapnya.
Pria yang pernah menjabat bupati Batang, Jawa Tengah itu memastikan, akan ada langkah yang dilakukan untuk kedua anak Sumini. Bahkan dalam jangka pendek, kedua anak Sumini akan mendapatkan jaminan yang dibutuhkan. Utamanya terkait asupan gizi. (rul/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita