Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

11 Ekor Sapi di Bantul Mati Karena PMK, Peternak Diimbau Tingkatkan Kebersihan Kandang

Khairul Ma'arif • Jumat, 3 Januari 2025 | 23:49 WIB
Ilustrasi Sapi terkena PMK.
Ilustrasi Sapi terkena PMK.

BANTUL - Penyakit mulut dan kuku (PMK) mulai menjangkiti sapi peternak di Kabupaten Bantul.

Bahkan 11 ekor sapi mati karena penyakit yang berasal dari virus RNA, virus yang termasuk dalam genus Apthovirus dan keluarga Picornaviridae.

Kondisi tersebut membuat sejumlah peternak cemas dan khawatir virus akan meluas dan menjangkiti sapi-sapi lainnya.

Dari pendataan yang dilakukan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul, jumlah sapi yang terjangkit PMK saat ini sudah mencapai 94 ekor.

"Sapi yang mati lebih dari 10 (ekor, Red). Sapi yang mati (berada di kecamatan, Red) Kretek dan Pundong," ujar Kepala DKPP Bantul Joko Waluyo, Jumat (3/1/2025).

Joko mengimbau agar peternak menjaga kebersihan kandang.

"Untuk ternak baru, kami minta ada isolasi dulu dua pekan," bebernya.

Dia menilai itu menjadi langkah antisipasi agar terhindar PMK.

Menurutnya, sapi ternak yang mati terjangkit PMK masih aman untuk dikonsumsi asal tidak terlalu lama jeda menyembelihnya.

Untuk antisipasi lanjutan Pemerintah Kabupaten Bantul melalui Sekda mengeluarkan Surat Edaran No.B/500.7.2.4/09481/ tertanggal 30 Desember 2024.

SE tersebut ditujukan ke panewu dan lurah se-Bantul.

Baca Juga: Prediksi Nice vs Rennes Ligue 1 Prancis Sabtu 4 Januari Kick Off 03.00, H2H dan Susunan Pemain, Siapa Pemenangnya?

Seorang peternak di Seloharjo, Pundong, Santoso mengaku khawatir.

Dia sudah mengetahui PMK menyerang sapi ternak yang ada di Bantul.

"Cemas saya semoga saja sapi saya aman," katanya, Jumat (3/1/2025).

Menurutnya, sudah sejak sebulanan terakhir ini mulai waspada menghadapi PMK.

Pasalnya, pria berusia 33 menuturkan, kehadiran PMK ini membuat harga sapi menurun. Tentunya itu sangat merugikannya sebagai peternak.

"Turunnya dari Rp 17 juta perekor jadi Rp 15 juta," sambungnya.

Sejumlah antisipasi sudah dilakukannya agar sapinya terhindar dari PMK. Di antaranya selalu menjaga kebersihan.

Santoso memiliki empat sapi yang diternaknya sendiri. Namun, dia masih merasa bersyukur tidak ada sapinya yang terpapar PMK.

Sementara itu, ada juga peternak sapi lainnya Budi Santosa yang terletak di Murtigading, Sanden.

Pria yang juga berbisnis jual beli sapi itu juga sangat khawatir terhadap PMK. Selain membunuh sapi secara fisik tetapi juga mematikannya secara harga.

"Harga jual sapi turun Rp 2-3 juta," tuturnya.

Bahkan parahnya untuk sapi siap potong penurunan harganya bisa sampai setengahnya.

Menurutnya, sapi siap potong yang dalam keadaan sehat dijual Rp 30 juta sedangkan yang terpapar PMK dihargai Rp 15 juta.

Baca Juga: Jadwal Pelantikan Kepala Daerah Mundur di Bulan Maret 2025, KPU Kota Jogja Masih Tunggu Arahan dari Pusat

Pria berusia 48 tahun itu mengaku, tidak sedikit sapi terpapar PMK yang disembelih karena memang tidak masalah karena tanpa larangan.

Dia mengungkapkan, PMK kali ini lebih ganas dibanding tahun 2022 lalu. Ganasnya PMK sekarang tiba-tiba bisa membuat ternak mati.

Budi yang memiliki sekitar 25 ekor sapi ini kini lebih waspada karena keberadaan PMK.

"Saya tidak ke pasar dulu, sapi beli dari peternak lokal," ungkapnya.

Selain itu, dia pun rutin menyemprotkan disinfektan setiap pagi dan sore di sekitar kandangnya.

Sedangkan sapinya pun disuntikan vitamin lima hari sekali. Tujuannya agar tidak terjangkit PMK. (rul)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#vaksin #DKPP Bantul #penyakit #Surat Edaran #PMK #Bantul #sapi #ternak mati #virus #peternak