BANTUL - Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul menangani animal rescue lebih banyak di 2024 ini dibanding tahun sebelumnya. Pada 2023 penanganan animal rescue yang dilakukan Damkarmat BPBD Bantul sebanyak 973 kali. Pada tahun ini, angkanya melonjak menjadi 1130 penanganan.
Kepala Bidang Damkarmat BPBD Bantul Irawan Kurnianto mengatakan, penyebab pastinya peningkatan tersebut tidak diketahui secara konkret. Itu karena bukan ranah ketugasannya. "Kami hanya bisa mengira karena faktor cuaca dan musim yang mempengaruhi banyaknya penyelamatan hewan tahun ini," katanya Jumat (20/12/2024).
Menurutnya, animal rescue yang ditanganinya berkaitan dengan membahayakan manusia. Atau bisa juga hewan ternak yang kecemplung sumur. Bukan binatang yang sudah menjadi bangkai dievakuasi.
Dia mengatakan, setiap tahunnya operasi tangkap tawon (OTT) selalu yang mendominasi di Bantul. Posisi kedua yakni evakuasi ular liar yang membahayakan manusia. "OTT 2023 sebanyak 579 dan 2024 menurun jadi 505," sambungnya.
Irawan mengungkapkan, penanganan tawon di Bantul merata hampir di seluruh kapanewon ada. Menurutnya, yang jarang adalah penanganan buaya. Sepanjang 2024 hanya ada satu saja.
Penanganan ular selalu terbanyak kedua setiap tahunnya. Pada 2023 ada 250 penanganan dan tahun ini ada 384 ular. Nantinya ular yang sudah ditangani diberikan ke pencinta reptil atau dilepasliarkan di kondisi jauh permukiman.
Dia menuturkan, sisa penanganan animal rescue tidak begitu dominan angkanya. "Penanganan biawak tahun ini 120 tahun lalu hanya 64," ungkapnya.
Disinggung mengenai penanganan monyet ekor panjang yang meresahkan, Irawan mengaku itu bukan menjadi ketugasannya. Sebab Damkarmat tidak bisa mengusir hewan berkoloni yang turun karena kekeringan dan kelaparan.
Hanya saja, monyet ekor panjang masih menjadi pekerjaan serius Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul. Karena merusak lahan pertanian. "Masih ada laporan dari warga keluhan monyet ekor panjang," ujar Kepala DKPP Bantul Joko Waluyo. (rul)
Editor : Sevtia Eka Novarita