Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ternyata Ini Penyebab Kasus Bunuh Diri Kabupaten Bantul Meningkat Tiga Kali Lipat, Dinkes Bantul: Gangguan Jiwa Ringan Bisa Screening di Puskesmas

Khairul Ma'arif • Selasa, 10 Desember 2024 | 20:56 WIB
Ilustrasi percobaab bunuh diri karena overdosis obat.
Ilustrasi percobaab bunuh diri karena overdosis obat.

BANTUL - Jumlah kasus bunuh diri di Bumi Projotamansari tahun ini meningkat dari tahun sebelumnya.

Merujuk data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul, jumlah kasus bunuh diri mencapai 22 laporan pada 2024, sementara jika merujuk pada data Polres Bantul, kasus bunuh diri mencapai 35 kejadian.

Kasus Bunuh diri dari laporan Dinkes Bantul pada 2023 lebih rendah dari tahun ini, yakni delapan kali kasus.

Kepala Seksi Gizi, Kesehatan Keluarga dan Kesehatan Jiwa Dinkes Bantul Siti Marlina mengatakan, dari data instansinya, peningkatan kasus 2023 hampir tiga kali lipat pada tahun ini.

Gejala gangguan jiwa depresi, menjadi penyebab bunuh diri nomor satu. Disusul dengan kondisi ekonomi dan masalah dalam keluarga.

 

"Faktor-faktor itu yang menjadi depresi berat suport keluarga dan masyarakat kurang mengenali, jadi ada ide bunuh diri," katanya, Selasa (10/12/2024).

Kondisi semacam itu sudah masuk dalam depresi berat seharusnya ada pemantauan tidak bisa dibiarkan sendirian.

Depresi berat memunculkan halusinasi bisikan bunuh sehingga semestinya mendapat rawat inap instensif untuk diobati dan dipantau tenaga kesehatan (Nakes).

Penderita depresi berat ketika tidak mendapat perhatian keluarganya akan merasa sendirian tidak punya siapa-siapa.

Perempuan yang biasa Lina ini mengungkapkan, di Bantul ada delapan psikolog klinis yang mengampu pada 16 puskesmas.

"Jadi kami masih kekurangan banyak tenaga psikolog klinis," sambungnya.

Menurutnya, seseorang yang merasa depresi ataupun gangguan mental sebenarnya bisa langsung ke Puskesmas.

Kecemasan dan stress juga masuk dalam gangguan jiwa ringan. Dinkes Bantul melalui Puskesmas sudah melakukan screening jiwa di seluruh wilayahnya.

Teknisnya bahkan sudah digital dengan barcode ataupun google form. "100 ribu sudah kami lakukan screening 6 persen di antaranya ada yang bermasalah ada yang hasil abnormal atau gangguan kejiwaan," bebernya.

Namun, untuk tindak lanjutnya masih kesulitan karena sumber daya kesehatannya dengan konseling tetapi tenaga terbatas sedangkan beban Puskesmas banyak sekali.

Kendati begitu, Lina menegaskan, sudah ada Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) sampai tingkat masyarakat.

Menurutnya, pemicu lain bunuh diri karena banyaknya konten atau sebaran informasi terkait aksi serupa sehingga memantik seseorang untuk melakukannya.

"Kami sudah edukasi masyarakat masalah kesehatan kejiwaan mulai dari gejala agar ada kesiapsiagaan," tegasnya.

Kapolres Bantul AKBP Michael Risakotta menambahkan, dari temuan kasus bunuh diri yang tercatat kepolisian karena deperesi menandakan ada kecenderungan menganggap remeh kesehatan jiwa.

Terutama dari lingkaran terdekat seperti keluarga seharusnya menjadi pengingat bagi seorang yang mengalami depresi.

Menurutnya, semestinya ketika dirasa depresi harus mendatangi atau ditangani psikolog klinis. (rul)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#penyebab #2024 #kabupaten bantul #dinkes bantul #2023 #kasus bunuh diri #polres bantul #Bantul #Kasus Bunuh Diri Kabupaten Bantul Meningkat #gangguan jiwa #puskesmas #screening #Ringan