BANTUL - Ada nama Titis Ajeng Ganis Mareti ST dari 19 wajah baru anggota DPRD Bantul periode 2024-2029. Meski baru kali pertama duduk sebagai wakil rakyat, wakil ketua DPRD Bantul ini berkomitmen ingin ikut andil mewujudkan swasembada pangan di Bumi Projotamansari.
”Itu karena swasembada pangan merupakan salah satu asta cita Bapak Presiden,” jelas Titis, sapaan karib Titis Ajeng Ganis Mareti ST, melalui sambungan telepon Minggu (8/12/2024).
Pertimbangan lain, politikus Partai Gerindra ini menyebut, Kabupaten Bantul dikenal sebagai salah satu lumbung pangan di DIY.
Bagi Titis, mewujudkan impian ini bukan perkara gampang. Salah satu penyebabnya, banyak anak muda yang sekarang enggan menekuni dunia pertanian. Mereka menganggap sektor pertanian tidak menjanjikan. Sehingga, para petani saat ini didominasi generasi lama.
”Mindset bahwa pertanian tidak menjanjikan harus diubah,” tegasnya.
Caranya, Titis mencontohkan, salah satunya melalui penguatan kelembagaan. Lembaga kelompok tani (klomtan) hingga gabungan kelompok tani (gapoktan) harus diperkuat. Pemkab juga harus rutin menjalin komunikasi dengan mereka. Itu untuk mengetahui berbagai kebutuhan yang mereka perlukan. Juga, untuk mengetahui berbagai kendala yang mereka hadapi.
”Komunikasi itu juga sebagai bentuk kehadiran pemerintah di tengah para petani,” ucapnya.
Sebelum dilantik 13 Agustus lalu, politikus yang berangkat dari Daerah Pemilihan Bantul 2 (Banguntapan-Piyungan) ini memang rajin mempelajari berbagai pekerjaan rumah pemkab. Itu sebagai modal ketika dilantik sebagai wakil rakyat. Agar Titis kelak bisa berbuat banyak untuk menyelesaikan berbagai persoalan itu. Nah, sektor pertanian salah satunya.
”Dulu, saat masih kampanye sering bertemu dengan teman-teman petani juga,” tuturnya.
Berdasar informasi yang diperoleh, Titis mencatat, jumlah klomtan se-Bantul sekitar 860. Mayoritas belum memiliki alat mesin pertanian (alsintan) yang memadai. Dampaknya, pengelolaan tanaman tidak maksimal.
Titis berpendapat modernisasi alat pertanian sangat diperlukan. Idealnya, seluruh klomtan memiliki alsintan modern. Kendati begitu, lulusan Universitas Pembangunan Nasional Veteran ini menyadari bukan perkara mudah untuk merealisasikannya. Lantaran kemampuan APBD Bantul sangat terbatas.
”Sehingga, diperlukan berbagai terobosan. Misalnya, mengakses bantuan dari pemerintah pusat,” tegasnya.
Keberadaan alsintan modern, Titis menekankan, tidak hanya menunjang pekerjaan para petani. Melainkan juga bisa menarik minat anak muda untuk terjun ke sektor pertanian.
Upaya lain untuk mengangkat sektor pertanian adalah menggenjot program diversifikasi pangan. Agar hasil panen bisa diolah menjadi beragam jenis produk pangan. Dengan begitu, hasil panen bisa menjadi nilai tambah.
”Ini masuk kategori hilirisasi. Jadi, petani tidak hanya menjual produk mentah,” tegas politikus yang berulang tahun tanggal 5 Maret ini.
Jika berbagai upaya itu terealisasi, Titis mewanti-wanti ada satu hal yang tak kalah penting. Pemkab perlu turun tangan untuk pemasarannya. Sebab, salah satu kelemahan para petani adalah pemasaran produk.
”Dengan memiliki pasar yang jelas, nilai jual hasil panen pasti akan sangat layak,” ingatnya.
Karena itu, Titis meminta pemkab tidak menganaktirikan sektor pertanian. Ada sekitar 62 ribu warga Kabupaten Bantul yang berprofesi sebagai petani.
”Dan, industri pangan ke depan akan semakin menjanjikan. Seluruh penduduk di muka bumi membutuhkan makan setiap hari,” pesannya. (*/rul/zam)
Editor : Sevtia Eka Novarita