BANTUL - Desa Triharjo, Pandak, Kabupaten Bantul memiliki luas wilayah 643.1485 hektar. Namanya memang tidak sekondang desa-desa lain di Bantul. Tetapi, kiprahnya tidak bisa dipinggirkan begitu saja karena menawarkan banyak keunggulan dari masing-masing padukuhannya.
Lurah Triharjo Suwardi mengatakan, wilayahnya terdiri dari 10 padukuhan yang memliki kekhasannya masing-masing. Jumlah tersebut terdiri dari Padukuhan Siyangan, Juwono, Ngabean, Gunturan, Ciren, Jalakan, Tirto, Jigudan, Jaten, dan Nglarang. Jumlah penduduknya mencapai 12.610 jiwa yang terdiri dari 4.714 KK.
"Untuk mendukung pemberdayaan masyarakat kami mengembangkan konsep pemberdayaan kawasan," katanya, Jumat (6/12). Menurutnya, pemberdayaan dilakukan dengan bidang yang berbeda-beda. Padukuhan Siyangan dengan kampung wisatanya, Juwono dengan kampung kulinernya.
Selain itu, ada juga Padukuhan Ciren kampung seni, budaya dan Padukuhan Nglarang kampung furniture. Padukuhan Jalakan kampung Keluarga Berencana sedangkan Padukuhan Tirto dan Jaten kampung hijau dan sehat. Padukuhan Gunturan kampung gurami, Ngabean kampung bunga dan Jigudan kampung olahraga. "Upaya tersebut menjadi usaha untuk dapat menggerekan ekonomi setempat lebih menggeliat," sambung Suwardi.
Geografisnya Triharjo, membentang di Jalan Srandakan. Sebagian wilayahnya ada yang berada di tepi Kali Progo seperti Juwono dan Siyangan. "Kampung bunga di Ngabean menghasilkan daun-daun kering seperti lontar, kulit jagung, sabut kelapa, nyamplung yang dijadikan karya seni menembus mancanegara seperti Australia, Asia, dan Eropa," ungkapnya.
Sementara Kampung Kuliner Juwono memiliki lapak jualan yang terpusat di atas tanah kas desa. Aneka jajanan pasar, sayuran, makanan olahan, dan aneka jamu jawa. Kendati begitu, sebagian besar mata pencaharian warga Triharjo mayoritas petani dengan padi sebagai komoditas andalan. Kampung wisata Siyangan juga menjadi unggulan dengan berbagai jenis wisata berbasis penampilan seni dan budaya.
Dukuh Siyangan Effendy Wahyudin menambahkan, wilayahnya menonjolkan wisata alam. Ada gardu pandang ngancar yang menjadi titik pertemuan antara Kali Progo dan Kali Bedog. "Wisata tradisional karena banyak rumah-rumah pendopo dan limasan," tuturnya.
Selain itu, wilayahnya juga mengembangkan wisata adat dan tradisi berupa wiwitan, majemukan, merti dusun, nyadran dan selikuran. Wisata kebudayaan pun ada di Siyangan dengan hadirnya sejumlah sanggar seni yang melestarikan tari-tarian, reog, dan jatilan. Sedangkan wisata religi berupa hadroh dan sholawatan yang bisa ditampikan ketika pengunjung berdatangan. "Wisata edukasi juga ada berupa usah kecil pembuatan tempe kedelai, emping mlinjo dan minuman kesehatan," tandasnya. (rul).
Editor : Heru Pratomo