BANTUL - Hujan deras disertai angin yang terjadi sejak November menyebabkan puluhan kejadian di Kabupaten Bantul. Terbaru, dua rumah di kawasan Dlingo kembali terdampak longsor.
Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik, dan Peralatan BPBD Bantul Antoni Hutagaol mengatakan, angin kencang sudah berimbas pada rusaknya lima rumah, satu fasilitas pendidikan. Sedangkan pohon tumbang hingga 28 kejadian selama November, beberapa di antaranya menimpa bangunan.
"Dampak gerakan tanah atau longsor dialami sekitar delapan rumah," katanya Jumat (29/11/2024).
Kejadian paling baru, lanjutnya, tanah longsor terjadi di Mangunan, Dlingo. Ada dua rumah yang terdampak, masing-masing di Kanigoro dan Sukorame. Tetapi tidak ada korban jiwa maupun luka.
Penyebab longsor karena lamanya hujan deras. Kondisi ini diperparah dengan tanah yang gembur. "Di Kanigoro dampak kerugiannya Rp 1 juta sedangkan Sukorame mencapai Rp 20 juta," bebernya.
Di Kanigoro, longsoran tanah tidak sampai meratakan bangunan. Tetapi jika ada longsor susulan, sangat rentan terdampak ke rumah milik Sakiran tersebut. Kerusakannya hanya berupa bagian belakang rumah tembok kayu berukuran empat meter jebol.
"Kami berikan terpal dan logistik untuk bantuan," lontar Antoni.
Selain itu, lantai rumah tersebut sekarang tergenang air dan lumpur dan penghuninya meminta tenda untuk beristirahat sementara. Sementara memang penghuni rumah masih kekeh menempatinya.
Ketika ada longsor susulan, penghuni rumah sudah siap untuk mengungsi ke PAUD terdekat. Sebab jarak rumah dengan longsoran hanya setengah meter. Dengan ketinggian tanah mencapai lima meter.
Sedangkan di Sukorame, longsor merusak pondasi rumah dan jaringan pipa. Kondisi itu mengakibatkan rumahnya hampir roboh. "Kondisi rumah saat ini kosong," ucap Antoni.
Dia meminta untuk warga Bantul agar tetap waspada dan siaga terhadap ancaman bencana hidrometeorologi. Terlebih ketika hujan turun dengan deras disertai angin kencang. (rul/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita