BANTUL - Produk kerajinan lokal Bantul berhasil menembus pasar Amerika, Eropa, dan Timur Tengah. Barang yang diekspor mayoritas dengan bahan baku eceng gondok dan marmer. Produknya berupa peralatan makan, cermin, mangkok, piring, hingga dekorasi rumah lainnya.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyebut, nilai kerajinan yang diekspor menyentuh 127.070.80 US Dollar atau setara dengan Rp 2.060.779.260. Dengan nilai tersebut, produk lokal memiliki potensi besar.
Oleh karena itu, perluasan pasar ekspor akan dilakukan Kemendag demi meningkatkan ekspor produk Indonesia. Terlebih saat ini, Indonesia telah memiliki 40 perwakilan di luar negeri yang bertugas sebagai marketing produk dalam negeri. Perwakilan tersebut terdiri dari Atase Perdagangan dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC). “Membuka pasar baru dengan membuat banyak perjanjian perdagangan sebagai perluasan ekspor,” ucapnya saat pelepasan ekspor di Triwidadi, Pajangan, Bantul Senin (25/11/2024).
Bahkan beberapa waktu lalu, lanjutnya, sudah disepakati perjanjian perdagangan dengan sejumlah negara. Di antaranya Kanada dan Denmark. Selanjutnya, yang akan dikejar adalah Eurasia dan Peru.
Menurtnya, jumlah UMKM di Indonesia mencapai 60 juta. Tetapi, yang memenuhi rasio kewirausahaan hanya 3,47 persen. Artinya, UMKM yang berkelanjutan hanya sedikit. “Karena yang banyak sifatnya untuk bertahan hidup setelah itu selesai dan bangkit lagi,” tuturnya.
Sementara itu, Presiden Direktur PT Out of Asia Handaka Santosa selaku eksportir menyebut, produk yang dikirim ke luar negeri merupakan kerajinan dari perajin lokal. Upaya ekspor, dilakukan untuk memperkenalkan hasil karya anak bangsa ke pasar internasional. Sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan. “Produk yang kami ekspor bukan hanya barang kerajinan, tetapi juga simbol semangat dan kreativitas para perajin lokal,” ujarnya.
Menurutnya, produk-produk yang diekspor telah memenuhi standar kualitas internasional. (rul/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita