BANTUL - Kampanye terbuka untuk masing-masing pasangan calon (paslon) Pilkada Bantul 2024 sudah ditetapkan jadwalnya. Namun, dari tiga paslon yang berkontestasi, hanya pasangan nomor urut 2 Abdul Halim Muslih-Aris Suharyanta yang mengambil jatahnya pada Minggu (10/11/2024). Sedangkan paslon nomor 1 Untoro Hariadi-Wahyudi Anggoro dan paslon nomor 3 Joko B Purnomo-Rony Wijaya Indra Gunawan tidak mengambilnya. Padahal masing-masing telah dijadwalkan kampanye terbuka pada Minggu (17/11/2024) dan Minggu (3/11/2024).
Kepala Divisi Teknis KPU Bantul Mestri Widodo membenarkan, hanya paslon nomor dua yang menggunakan kampanye terbuka. "Kami hanya memfasilitasi kampanye terbuka sisanya menjadi hak masing-masing paslon," ungkapnya, Minggu (17/11/2024).
Kendati hari ini tidak ada kampanye terbuka yang dilakukan Untoro-Wahyudi, Polres Bantul tetap disiagakan dalam pengamanan masa kampanye. Upaya itu dilakukan agar setiap jalan kampanye masing-masing paslon tidak ada gesekan yang mengganggu kamtibmas.
"Khususnya Minggu (17/11/2024) ada 427, ditambah 60 personel bantuan dari Satbrimobda Polda DIY diterjunkan untuk mengamankan kampanye tahap kampanye hari ini," ujar Kasi Humas Polres Bantul AKP I Nengah Jeffry Prana Widnyana dalam keterangannya.
Menurutnya, Polres Bantul tetap memberikan pengamanan maksimal tahap kampanye hari ini. Mengingat, seluruh paslon juga menggelar kampanye dalam bentuk lain. Seperti tatap muka, dialogis, konsolidasi, koordinasi, temu warga/relawan/kader dan sosialisasi visi misi paslon di berbagai wilayah.
Dikonfirmasi terpisah, Untoro membenarkan tidak ikut andil dalam kampanye terbuka. Namun dia tetap berkeliling ke 75 kalurahan yang ada di Bantul. Dengan total 700 titik yang sudah dikunjungi. Menurutnya, tidak mengambil jatah kampanye terbuka untuk mengedepankan bertemu langsung dengan sowan ke warga.
"Sangat efektif ketemu warga langsung ngobrol bertatap muka sehingga langsung mengena," ucapnya.
Menurutnya, selalu mencatat setiap aspirasi warga yang ditemukan untuk berbincang. Oleh karena itu, kampanye dengan tatap muka ke masing-masing kelompok masyarakat dirasa lebih intens dibandingkan dengan melalui metode rapat umum. (rul/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita